Indonesia kembali diguncang, bukan oleh politik… tapi oleh dua kata paling heboh minggu ini: rahim copot. Kisah seorang ibu yang melahirkan di dukun beranak viral, dan dalam hitungan jam, seluruh negeri berubah jadi forum debat. Netizen panik, dokter ikut panas, dan rumor berlarian lebih cepat dari plasenta yang ditarik paksa.
Menurut para dokter SpOG, cerita ‘rahim copot’ itu hampir pasti keliru. Yang lebih mungkin adalah inversio uteri—kondisi langka ketika rahim terbalik karena plasenta ditarik sebelum waktunya. Apalagi, secara anatomi, rahim itu terikat ligamen kuat. Data juga bicara: inversio terjadi hanya di 1 dari 2.000–2.500 persalinan, dan kalau terjadi, risikonya perdarahan masif hingga syok.
Sementara itu, para dokter di medsos ikut gaduh: dr. Tirta membela dr. Gia Pratama dan menyindir bahwa debat antar sejawat yang viral di publik itu tidak perlu — cukup berdialog via DM. dr. Irwin Lamtota sempat bikin utas tajam soal kasus ini, tapi kemudian minta maaf kepada dr. Gia lewat media sosial. Ada juga dr. Kiko Marpaung, SpOG, yang menyebut apa yang diceritakan Gia “menyesatkan” dan meminta klarifikasi.
Tapi di balik semua kegaduhan itu, ada pesan keras: keselamatan persalinan harus ditangani tenaga medis profesional. Karena kalau plasenta ditarik sembarangan… bukan cuma drama sosial media, nyawa pun bisa melayang.”
