Bayangkan sebuah lembaga eksklusif...bukan untuk rakyat kecil — tapi untuk orang super kaya.
Itulah gagasan Luhut Binsar Panjaitan: mendirikan Family Office di Bali — katanya, agar uang dunia datang, pajak masuk, ekonomi naik.
Tapi tak semua tepuk tangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak keras ide itu pakai APBN.
Singkatnya: “Kalau mau bangun, jangan pakai duit rakyat. Luhut pun membalas, santai — katanya semua dari investor,bukan dari kas negara.
Tapi publik bertanya-tanya, kenapa setiap proyek “strategis” selalu bersandar pada lingkaran yang sama?
Family Office digadang-gadang buka lapangan kerja, tapi di mata rakyat…terdengar seperti ruang VIP ekonomiyang tiket masuknya hanya untuk kalangan tertentu.
Pertanyaannya — apakah ini strategi ekonomi masa depan, atau sekadar cara baru…menjaga bisnis keluarga tetap berkuasa? Bagaimana menurut Anda?
