Sherly, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga kini masih mencari keadilan. Laporannya ke polisi sejak April 2024 berjalan lamban, sementara suaminya Roland—yang kerap melakukan penganiayaan—masih melenggang bebas.
Sejak menikah dengan Roland pada 2011, hidup Sherly berubah jadi penuh luka. Roland yang posesif melarangnya berbicara dengan orang lain, membatasi hubungan dengan keluarga, hingga melarang penggunaan media sosial. Di balik pintu rumah, Sherly kerap menjadi korban kekerasan fisik dan psikis, bahkan pernah mencoba bunuh diri akibat tekanan yang tak tertahankan.
Pola kekerasan itu berulang selama bertahun-tahun. Dari dipaksa lari ratusan kali saat hamil, dipukul hingga memar, dicekik, hingga dilarang bertemu keluarga. Roland bahkan ketahuan berselingkuh, tetapi setiap kali Sherly melawan, jawabannya selalu kekerasan.
Puncaknya terjadi awal April 2024. Sherly yang berusaha kabur bersama anak-anak justru kembali disiksa. Kakaknya, Yanty, yang datang menolong malah ikut dianiaya Roland dan ibunya, Lili Kamso. Mereka dipukul, ditendang, dicekik, hingga tubuh penuh memar, sementara anak-anak menangis menyaksikan ibunya disiksa.
Bukannya mendapat perlindungan, kasus ini justru berubah jadi saling lapor. Lili melaporkan Yanty, sementara Sherly dan keluarganya melaporkan balik Roland dan ibunya. Ironisnya, Yanty sempat ditahan polisi, meski ia adalah korban. Hingga kini, Sherly dan keluarganya masih menanti keadilan yang tak kunjung datang.
Kirim videomu ke Gresnews dan dapatkan imbalan uang tunai!
+62 818-1873-0499.
