Dampak Buruk Pembangunan Tol Cikampek II
Rencana PT Jasa Marga (Persero) Tbk membangun jalan tol Jakarta-Cikampek II diminta dikaji ulang.
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Rencana PT Jasa Marga (Persero) Tbk membangun jalan tol Jakarta-Cikampek II diminta dikaji ulang. Sebab rencana pembangunan tersebut belum dipastikan bisa menyelesaikan persoalan fundamental yakni kepemilikan kendaraan di Jakarta. Sebab dengan adanya jalan baru, secara otomatis akan memicu kenaikan jumlah orang menggunakan kendaraan pribadi.
Menurut pengamat transportasi Danang Parikesit terjadinya kenaikan penggunaan kendaraan pribadi akan berdampak kepada jumlah Bahan Bakar Minyak (BBM) yang digunakan. Kedua, pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek II tersebut juga dibarengi dengan proyek nasional kereta cepat.
Ia mengingatkan jangan sampai pembangunan proyek jalan tol Jakarta-Cikampek II, menjadi kontra produktif karena masyarakat menginginkan antara kereta api dan jalan saling berhubungan, bukan malah saling bertentangan.
Menurutnya pembangunan jalan tol itu sama seperti program pembangunan infrastruktur pemerintah berupa Trans Sumatera. Program pembangunan infrastruktur Trans Sumatera antara high great high way yang dirancang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Trans Rail Way yang dirancang oleh Kementerian Perhubungan. Kedua proyek tersebut memiliki ketersambungan (paralel), sehingga diharapkan tidak saling berkompetisi.
"Jadi jangan sampai saling berkompetisi dan proyeknya malah tidak saling menguntungkan. Sayang belanja pemerintah yang besar tapi hasilnya tidak optimal," kata Danang di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (5/1).
Danang meminta pemerintahan Jokowi konsisten membangun proyek infrastruktur transportasi. Jika ingin membangun kereta api dan jalan tol, jangan sampai menimbulkan persaingan. Kalau pun dalam pembangunan terdapat jaringan jalan tol, maka harus difungsikan sebagai feeder kereta api. Misalnya, bagi kendaraan truck yang menggunakan jalan kemudian berhenti di stasiun untuk memindahkan muatannya ke kereta api.
"Jadi kereta api digunakan untuk menuju ke tempat-tempat lain," kata Danang.
Sementara itu Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Adityawarman mengatakan proyek jalan tol Jakarta-Cikampek II merupakan proyek yang sangat penting dalam mendukung perekonomian nasional. Sebab ruas jalan tol yang sudah ada seperti jalan tol Jakarta-Cikampek sudah terlampau padat. Hal itu disebabkan adanya pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut yang dipenuhi perumahan dan kawasan industri.
Dia menuturkan, saat ini Jasa Marga masih menunggu persetujuan Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat agar proyek jalan tol Jakarta-Cikampek II menjadi jaringan jalan tol nasional. Dia menambahkan jika proyek tersebut disetujui, maka pemerintah akan membuat kebijakan bahwa proyek jalan tol tersebut masuk dalam jaringan jalan tol nasional. Setelah itu, pemerintah akan membuka pelelangan proyek jalan tol tersebut agar investor dapat berpartisipasi dalam pembangunannya.
"Kami tetap mayoritas 60 persen, sisanya dari investor lain," kata Adityawarman.
DIBANGUN SISI KANAN TOL CIKAMPEK - PT Jasa Marga (Persero) berencana membangun Jalan Tol Jakarta-Cikampek II. Lokasi jalan tol tersebut posisinya bakal bersebelahan dan sejajar dengan Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang telah eksisting saat ini.
"Jalan tol itu akan berada di sebelah kanan jalan tol yang sudah ada, dari arah Jakarta ke Cikampek," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna.
Saat ini, menurut Herry, BPJT masih menunggu kajian yang sedang dilakukan oleh pihak Jasa Marga. Termasuk kajian desain dan biaya konstruksinya.
"Sampai saat ini, itu (hasil studi kelayakan) belum ada belum kami terima. Ini sifatnya masih pengajuan minat," katanya.
Menurutnya kajian ini diperlukan untuk mengetahui lokasi persis jalan tol termasuk masalah penyediaan lahan. "Bisa saja menggunakan lahan yang sudah ada milik Jasa Marga. Nanti kita cek apa masih mungkin untuk dilakukan," ujarnya.
Sejauh ini telah ada tiga Investor mengajukan minat untuk membangun proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek Jilid II.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) Fatchur Rochman, usulan prakarsa pembangunan jalan tol ini sangat tepat, mengingat kondisi jalan tol Jakarta-Cikampek dianggap sudah terlalu padat.
"Jalan tol Jakarta-Cikampek itu sudah sangat padat. Sudah over capacity (melebihi kapasitas), jadi jilid 2 harus dibangun," katanya, Jumat (24/7).
Menurutnya kepadatan jalan tol sepanjang 72 Km ini bisa dilihat dari panjangnya antrean di pintu-pintu jaringan jalan tol ini. "Ibaratnya yang harusnya didesain pintu hanya bisa dilewati 10 orang, sekarang sudah 15 orang. Ya antreannya jadi lebih panjang," tuturnya.
Ia mengatakan terkait pembangunan Jalan Tol ini, pemerintah tidak perlu khawatir dibebani anggaran investasi. Karena menurutnya prakarsa pembangunan jalan tol itu datang dari pihak swasta.
"Sehingga investasi seluruhnya ditanggung pemrakarsa," paparnya.
TAHAP STUDI KELAYAKAN - Sementara tahap pembangunan itu adalah menyusun studi kelayakan. Selanjutnya proposal resmi pengajuan prakarsa pembangunan jalan tol dari 3 investor yang sudah menyatakan minatnya diajukan ke BPJT.
Proposal berisi hasil studi kelayakan, yang memuat rincian rencana teknis hingga perkiraan biaya investasi yang diperlukan.
Setelah proposal diterima, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan lelang investasi. Perusahaan pemrakarsa akan mendapat prioritas untuk memenangkan lelang tersebut.
Setelah diperoleh pemenang lelang investasi, akan dibentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) alias pengelola jalan tol. Kemudian lelang konstruksi untuk memilih perusahaan-perusahaan pelaksana pembangunan fisik jalan tol.
Pembangunan jalan tol ini diperkirakan bisa dimulai tahun 2016 ini.
Saat ini PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tengah melakukan pra studi kelayakan alias pra feasibility study (pra FS) terkait rencana pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek Jilid II.
Dari hasil studi awal kebutuhan biaya untuk membangun jalan tol tersebut diperkirakan mencapai Rp 9 triliun. Pembangunan jalan tol itu dilakukan sepanjang 70 kilometer.
Lokasi, lanjut dia, akan ngambil posisi di sebelah selatan jalan Tol Jakarta-Cikampek yang sudah ada saat ini. "Tapi lokasinya agak jauh. Nggak berdempetan. Karena lahannya kan sudah nggak ada lagi, sudah jadi real estate. Jadi agak jauh, tapi posisinya di selatan," ungkapnya. (Gresnews.com/dtc)
