Belitan Narkoba di Tubuh Kepolisian

Rabu, 12 Oktober 2016, 09:00:00 WIB - Hukum

Kapolres Bone Bolango, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Wahyu Tri Cahyono (tengah) menunjukan barang bukti narkoba jenis sabu di Mapolres Bone Bolango, Gorontalo, Selasa (11/10). Polres Bone Bolango berhasil menangkap empat orang jaringan narkoba antar provinsi asal Makassar, Sulawesi Selatan dengan barang bukti 30 gram sabu. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri menemukan indikasi pidana dalam kasus aliran dana dari gembong narkoba Chandra Halim alias Akiong ke oknum anggota Polri berinisial AKBP KPS. Propam meminta Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) menginvestigasi kasus tersebut. Jika terbukti, oknum polisi tersebut pantas dihukum berat.

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto mengungkapkan, saat ini telah menerima pelimpahan perkara dari Propam Polri tentang dugaan pemerasan yang dilakukan oleh perwira menengah (pamen) berinisial KPS itu. 'Suratnya sudah diterima, kami akan pelajari dan investigasi,' kata Ari di Mabes Polri, Selasa (11/10).

Ari enggan mengungkap tindak pidana yang dilakukan oleh AKBP KPS. Yang pasti, sambung dia, akan menelusuri dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh KPS. KPS adalah kepala tim di salah satu Sub Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Pada 2015, dia membongkar perdagangan CC4 di Lapas Narkotika Cipinang.

AKBP KPS pula yang menduga ada peran Fredi Budiman dalam temuan itu. Freddy yang berada di Lapas Nusakambangan lalu dijemput dan dibawa ke Bareskrim untuk pemeriksaan.

Temuan pemberian uang ke KPS terungkap hasil kerja Tim Pencari Fakta Gabungan (TPFG) yang menelisik kebenaran testimoni mendiang Fredi Budiman. Tim ini menemukan aliran dana Rp 668 juta dari Akiong kepada perwira menengah Polri.

'Tim menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oknum Pamen KPS yang diduga melakukan penyalahgunaan wewenang dengan memperoleh uang sebesar Rp668 juta dari tersangka Akiong,' kata Anggota Tim independen Efendi Gazali saat konferensi pers di Gedung PTIK, Kamis (15/9).

Bahkan Tim Independen juga menemukan aliran dana ke perwira Polri yang besarannya beragam. Mulai dari angka Rp 25 juta, Rp 70 juta, Rp 75 juta, Rp 700 juta, hingga di atas Rp 1 miliar.

Dengan fakta baru ini, tim independen meminta Polri menindaklanjuti dengan memproses hukum terhadap oknum Pamen Polri tersebut. Ada bukti permulaan berupa penyalahgunaan wewenang saat melakukan penyelidikan kasus narkoba dengan tersangka Akiong. Selain itu tim juga menemukan sejumlah indikasi oknum anggota Polri dari tingkat Polsek hingga atasan penyidik yang menerima pemberian dari pelaku bisnis narkoba.

'Kami minta Polri menindaklanjuti temuan ini,' kata Effendi.

Bareskrim harus ungkap kasus upeti Akiong ke AKBP KPS. Sebab itu menjadi pintu masuk mengungkap suap-suap lainnya termasuk dari Fredi Budiman. Akiong sendiri adalah bagian jaringan Fredi Budiman dalam kasus impor 1,4 juta ektasi dari China. Akiong bersama dengan delapan orang lain telah divonis bersalah dengan hukman mati dan saat ini menghuni LP Cipinang.

Mereka adalah Freddy Budiman divonis mati, Ahmadi divonis mati, Chandra Halim alias Akiong divonis mati, Teja Haryono divonis mati, Hani Sapto Pribowo dipenjara seumur hidup, Abdul Syukur dipenjara seumur hidup, Muhtar dipenjara seumur hidup dan anggota TNI Serma Supriadi divonis 7 tahun penjara dan telah dipecat.

Dosen Hukum Pidana Universitas Al Azhar Indonesia Suparji Ahmad mengatakan penyelidikan dan penyidikan kasus ini bisa menjadi pintu masuk membuka tabir gelap aliran dana narkoba ke aparat penegak hukum khususnya di Polri. 'Aliran dana ke perwira polisi perlu didalami lebih jauh untuk membuktikan ke masyarakat membenahi Polri, dan agar kasus ini tidak terulang lagi,' kata Suparji Ahmad kepada Gresnews.com beberapa waktu lalu.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar