Dua Paket Pendorong Sektor Properti

Senin, 21 September 2015, 11:01:00 WIB - Ekonomi

Pengunjung menyimak penjelasan sales promotion girl saat pameran properti di salah satu pusat perbelanjaan di Tangerang, Banten, Senin (14/9). Pemerintah memberi berbagai kemudahan antara lain suku bunga lima persen, uang muka satu persen, bantuan uang muka bagi PNS, potongan biaya pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) 95 persen, dan percepatan sertifikat tanah, sebagai salah satu upaya percepatan pembangunan properti. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Perekonomian dunia belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih, terlebih setelah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menahan penaikan suku bunga acuannya di level 0,25 persen. Tentu saja keputusan The Fed itu berdampak kepada perekonomian nasional, mengingat ekspor Indonesia yang mayoritas dari komoditi sementara harga komoditas masih akan turun.

Pemerintah pun melakukan upaya untuk menggerakkan ekonomi nasional melalui berbagai paket kebijakan ekonomi yang dirilis pada Rabu (9/9/2015). Namun pasar merespons negatif terhadap paket September I yang dirilis oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pergerakan pasar modal dan pasar uang sehari setelah paket kebijakan ekonomi diumumkan Jokowi justru negatif.

Berdasarkan dokumen yang dirilis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ada tiga sasaran paket September I yang dibuat oleh Jokowi, yakni mengembangkan ekonomi makro yang kondusif, menggerakkan ekonomi nasional, dan melindungi masyarakat berpendapatan rendah dan menggerakkan ekonomi pedesaan. Salah satu sektor penggerak ekonomi nasional adalah properti.

Pemerintahan Jokowi juga mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menggairahkan sektor properti yang sedang lesu darah. Perlambatan kenaikan harga properti residensial diprediksi masih berlanjut pada kuartal III/2015. Setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab yakni kenaikan harga bangunan (31,14persen), upah pekerja (25,79persen), dan peningkatan bahan bakar minyak (19,46persen).



Hasil survei Bank Indonesia menuliskan pada kuartal III/2015 menyatakan indeks harga properti hunian naik 0,49persen (q-o-q) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini dinilai melambat karena sebelumnya secara triwulan pada kuartal II/2015 harga terkerek 1,38persen (q-o-q).

Adapun survei dilakukan di 16 kota seperti Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi) dan Banten Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Manado, Makassar, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Bandar Lampung, Palembang, Padang, serta Medan.

Lesunya kenaikan harga properti residensial juga terjadi secara tahunan. Pada kuartal II/2015 terjadi pertumbuhan nilai jual 5,95persen secara year-on-year (y-o-y), sementara kuartal sebelumnya mencatatkan peningkatan 6,27persen (yoy). Pada kuartal III/2015, harga diprediksi hanya meningkat 4,94persen (yoy).

Berdasarkan wilayahnya, kenaikan harga terendah terjadi di Bandar Lampung dan Padang. Sedangkan kenaikan tertinggi masih terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Makassar dan Manado.

Riset pun menyebutkan area yang diprediksi mengalami stagnasi pertumbuhan harga ialah Jabodebek dan Banten, Medan, serta Balikpapan. Hasil riset juga menyebutkan perlambatan kenaikan harga paling tinggi secara triwulan terjadi pada rumah tipe besar dari 1,11persen di kuartal I/2015 menjadi 0,7persen di kuartal II/2015. Dalam periode yang sama, pertumbuhan harga rumah menengah juga menurun dari 1,22persen menjadi 0,85persen. Sementara itu, rumah tipe kecil justru mengalami kenaikan harga lebih tinggi sebesar 2,6persen di kuartal II/2015 setelah hanya naik 1,98persen di kuartal I/2015.

Baca selanjutnya: 1 2 3 4

Komentar