Waspadai 73 titik rawan longsor di Jember

“Gerakan tanah yang terjadi berupa retakan tanah sebanyak 73 titik pada lereng perbukitan bisa berkembang menjadi longsoran bahan rombakan,” ungkap Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono.

Post Image
Ilustrasi (Foto:pacitanisti.com)

Jakarta - Beberapa waktu lalu terjadi pergerakan tanah sehingga menimbulkan retakan di 73 titik di wilayah Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Masyarakat diminta mewaspadai fenomena alam tersebut karena berpotensi menimbulkan longsoran.

“Gerakan tanah yang terjadi berupa retakan tanah sebanyak 73 titik pada lereng perbukitan bisa berkembang menjadi longsoran bahan rombakan,” ungkap Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, dikutip laman esdm.go.id, Rabu (26/10).

Surono menjelaskan, lokasi daerah gerakan tanah dan sekitarnya merupakan daerah perbukitan dan permukiman dengan kemiringan Iereng terjal hingga sangat terjal. ”Daerah gerakan tanah diperkirakan berupa batuan breksi vulkanik di bagian atas dan batuan tufa atau lava di bagian bawah," ucap Surono.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Timur bulan Oktober 2011 dari Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, daerah tersebut termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Potensi menengah artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Sedangkan daerah dengan kategori berpotensi tinggi, gerakan tanah terjadi jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Surono memperkirakan, potensi tanah longsor pada daerah retakan tanah bisa terjadi karena curah hujan yang tinggi dan lama pada saat dan sebelum kejadian retakan tanah. Selain itu, adanya erosi dari sungai atau alur sungai dan adanya bidang lamah antara kontak batuan dasar dengan tanah pelapukan yang menyusun batuan di daerah tersebut.

“Tim Tanggap Darurat gerakan tanah dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan segera diberangkatkan ke lokasi retakan tanah untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan,” ujar Surono.