Izin Usaha Merpati Terancam Dicabut
Bambang menjelaskan, jika SIUP Merpati sudah habis, otomatis maskapai penerbangan itu harus mengajukan pembuatan SIUP baru, seperti halnya sebuah perusahaan baru yang ingin beroperasi sebagai maskapai penerbangan.
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Sayap-sayap Merpati Nusantara Airlines sudah lumpuh sejak awal Februari lalu. Berbagai persoalan yang mendera maskapai penerbangan perintis pelat merah itu mulai dari tunggakan gaji, tunggakan avtur, dan sebagainya, membuat Merpati semakin sulit untuk terbang kembali. Pihak Kementerian Perhubungan sudah memberikan "kartu kuning" kepada Merpati agar segera terbang lagi sebelum Februari 2015. Jika tidak maka bukan hanya izin rutenya saja yang hangus melainkan izin usaha Merpati juga bakal dicabut.
Plt Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S Ervan mengatakan, jika Merpati tidak juga beroperasi selama satu tahun terhitung sejak berhenti beroperasi pada awal Februari 2014 maka surat izin usaha penerbangan (SIUP) maskapai penerbangan perintis ini akan habis. "SIUP-nya akan habis setelah satu tahun berhenti beroperasi," kata Bambang, Kamis (10/4), di Jakarta.
Bambang menjelaskan, jika SIUP Merpati sudah habis, otomatis maskapai penerbangan itu harus mengajukan pembuatan SIUP baru, seperti halnya sebuah perusahaan baru yang ingin beroperasi sebagai maskapai penerbangan. "Kalau SIUP-nya habis, perusahaannya sudah nggak ada. Kalau sebagai perusahaan dia mengajukan lagi, untuk membangun baru. Dia sudah harus mengajukan dari awal," jelas Bambang.
Pembuatan SIUP baru, lanjut Bambang, mencakup pengajuan Air Operation Certificate (AOC) yang baru juga. Saat ini, AOC Merpati sifatnya hanya dibekukan, bukan dimatikan. Waktu pembuatan SIUP baru hingga maskapai tersebut mendapatkan izin beroperasi tergantung dari kesiapan maskapai masing-masing. Ada lima tahap yang harus dilewati dalam pengajuan SIUP baru
Bambang tidak merinci tahap per tahap. Menurutnya, salah satu tahap yang terpenting adalah ujicoba penerbangan. "Diambil contoh misalnya dia mengajukan rute untuk dilayaninya misalnya Jakarta-Makassar, mulai dari persiapan, berangkat, sampai tiba itu dia pakai simulasi," katanya.
"Nanti di tengah jalan, itu disimulasikan darurat di jalanan. Semua kru, pilot, awak kabin harus siap menghadapi saat darurat itu," imbuh dia.
Krisis yang dialami Merpati sendiri sepertinya sudah semakin mendalam. Sebab saat ini rute-rute yang biasa mereka terbangi juga sudah banyak yang diambil alih oleh maskapai lain karena sudah dinyatakan hangus oleh kemenhub.
Direktur Angkutan Udara Kemenhub Djoko Murdjatmodjo mengungkapkan, meski sudah ada yang mengoperasikan, rute-rute Merpati lainnya masih ada yang ditawarkan ke maskapai penerbangan lain. "Ada yang ngambil langsung, ada yang kita tawarkan," kata Djoko.
Rute-rute Merpati hangus karena sudah melewati batas yang ditentukan Kementerian Perhubungan. Disebutkan bahwa Merpati diberi waktu 30 hari ditambah 30 hari (60 hari), untuk mengaktifkan kembali rute-rutenya terhitung sejak berhenti beroperasi sekita awal Februari 2014 lalu. Karena tidak juga diaktifkan, maka rute Merpati hangus pada awal April 2014 ini.
Data kemenhub menyebutkan ada ada 21 rute Merpati yang sudah dilayani oleh maskapai lain sejak April ini. Rute tersebut di antaranya:
Bade - Merauke oleh ASI Pudjiastuti (1x/minggu) PP
Bima - Lombok Praya oleh Garuda Indonesia (7x/minggu) PP
Denpasar - Kupang oleh NAM Air (7x/minggu) PP
Denpasar - Lombok Praya oleh Wings Air (7x/minggu) PP
Denpasar - Surabaya oleh NAM Air, Citilink, dan Wings Air (7x/minggu) PP
Denpasar - Tambolaka oleh Garuda Indonesia (7x/minggu) PP
Denpasar - Waingapu oleh NAM Iar (7x/minggu) PP
Ende - Tambolaka oleh Garuda Indonesia (7x/minggu) PP
Ende - Kupang oleh Garuda Indonesia (7x/minggu) PP
Jayapura - Nabire oleh Wings Air (10x/minggu) PP
Jakarta - Surabaya oleh Batik Air (7x/minggu) PP
Jogjakarta - Makassar oleh Garuda Indonesia dan Lion Air (7x/minggu) PP
Kupang - Tamboaka oleh PT Garuda Indonesia (7x/minggu) PP
Kupang - Maumere oleh NAM Air (7x/minggu) PP
Makassar - Maumere oleh TransNusa (4x/minggu) PP
Makassar - Merauke oleh Sriwijaya Air (4x/minggu) PP
Makassar - Poso oleh Wings Air (4x/minggu) PP
Makassar - Surabaya oleh AirAsia (7x/minggu) PP
Makassar - Sorong oleh Sriwijaya Air (3x/minggu) PP
Maumere - Kupang oleh NAM Air (7x/minggu) PP
Surabaya - Sampit oleh Kalstar (7x/minggu) PP
Sementara itu terkait upaya penyehatan kembali bisnisnya, menurut Djoko, Merpati tengah menyusun rencana bisnisnya. Belum diketahui kapan pengkajian rencana bisnis Merpati tersebut rampung. "Merpati masih nyusun bisnis plan. Belum (tahu kapan), masih berhitung, masih pengkajiannya. Kalau sudah nanti mengajukan proposal," jelas dia.
Hanya saja harapan untuk mengembalikan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) pulih dan sehat kembali makin sulit. Misalnya, rencana Merpati memulihkan diri dengan membangun jalur penerbangan menuju ke Jeddah terganjal Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Rencananya Merpati hendak menggarap jalur umroh yang selama ini belum banyak pemainnya di Indonesia.
Bambang S. Ervan mengatakan jika ingin melakukan penerbangan menuju Jeddah, Merpati harus menghidupkan kembali Air Operator Certificate (AOC) 121 yang sudah dibekukan oleh Kementerian Perhubungan. Kemudian Merpati juga harus mengurus AOC 129 yang dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi. "Untuk mendapatkan AOC 129, Merpati harus menghidupkan AOC 121 sebagai maskapai domestik di Indonesia," kata Bambang, beberapa waktu lalu.
Sementara itu untuk penerbangan dalam negeri, seperti yang telah dikatakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Merpati sudah tidak mampu melakukannya lagi. Penerbangan ke Jeddah tadinya diharapkan menjadi solusi permasalahan Merpati. Sayangnya, untuk itu pun Merpati terganjal karena untuk bisa terbang ke luar negeri, Merpati justru harus punya izin sebagai maskapai domestik.
Namun melayani rute perintis di dalam negeri juga dinilai merupakan usaha bunuh diri karena justru lantaranh itu Merpati terus-terusan rugi. Upaya penyehatan Merpati dengan cara menjual anak perusahaannya juga tak jelas. Pasalnya PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang diharapkan bisa membeli anak usaha ternyata tak memiliki dana.
Kegagalan penjualan anak usaha ini mengganjal rencana menjalin kerjasama operasi dengan mitra untuk menghidupkan lagi bisnis Merpati. Beberapa waktu lalu Dahlan Iskan mengatakan meskipun anak usaha Merpati dilepas kepada PPA, Merpati masih dapat menggunakan fasilitas dari anak usaha tersebut. Kemudian, Dahlan menambahkan Merpati harus mencari mitra kerja untuk membentuk anak usaha baru dengan mekanisme KSO.
Namun Merpati diberikan waktu selama tiga bulan untuk mendapatkan mitra kerjanya. Jika Merpati tidak menemukan mitra kerjanya selama tiga bulan, maka tidak menutup kemungkinan Merpati akan ditutup. Kini dengan mentoknya berbagai solusi penyehatan Merpati, boleh jadi sayap-sayap Merpati bakal patah untuk selamanya. (dtc)
