Melancong ke Rumah Calon Kapolri
Namun perkiraan saya salah, ternyata Sutarman berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Memang gaya interior limasannya itu berasal dari Kudus, tapi dirinya bukanlah orang asli Kudus. Sutarman mengaku sebagai anak seorang petani miskin di Sukoharjo. Ia membangun karirnya dari nol sebagai polisi. "Orang tua saya miskin pak. Dan alhamdulillah sampai sekarang masih miskin," ujarnya.
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pagi ini saya dan sejumlah pewarta dari berbagai media datang lebih awal ke gedung Nusantara II, DPR, Jakarta. Kami bersiap-siap untuk mengikuti kunjungan Komisi III DPR RI ke kediaman rumah calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang berada di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi siapapun kandidat calon Kapolri, sebelum diadakan uji kelayakan dan kepatutan, Komisi III DPR RI terlebih dahulu melakukan kunjungan kerja ke kediaman yang bersangkutan.
Perjalanan dimulai pukul 10.25 WIB dari komplek DPR RI. Sejumlah rombongan anggota Komisi III menaiki bus pertama dan kami para pewarta berada di bus kedua. Dengan melewati jalan layang yang baru dari Jalan Wijaya, kami akhirnya tiba di Jalan Antasari, Cilandak, dengan pengawalan sebuah mobil sedan patroli putih strip biru, atau mobil yang biasa untuk mengawal rombongan khusus.
Kemudian untuk lebih mempersingkat waktu kunjungan kami memasuki lingkar toll JORR yang menuju Serpong, dan keluar di pintu tol Bintaro. Dari gerbang tol Bintaro, rombongan kami sudah dijemput oleh satu mobil patroli sedan putih dan sebuah mobil patroli ranger warna abu-abu.
Tidak cukup penyambutan itu, dua orang polisi yang mengendarai motor besar sudah menanti kami, dan ikut mengawal perjalanan kami hingga ke kediaman rumah Komisaris Jenderal Polri, Sutarman. Lima menit kemudian, perjalanan mulai melambat dan memasuki kompleks perumahan di Bintaro sektor sembilan. Bus rombongan memasuki kompleks perumahan mewah yang bangunan aslinya saja sudah berlantai dua.
Akhirnya kami tiba di Jalan Kucica X Nomor 11. Sejak sepanjang jalan radius satu meter di sekitar rumah kediaman Sutarman sudah dijaga ketat oleh polisi, hanya terlihat seorang satpam di pos paling depan yang berjarak satu kilometer, yang usianya sudah sepuh, ditemani oleh tiga orang polisi. Selain itu, tetangga-tetangga sekitar rumah Sutarman tidak ada yang tampak. Rumah dan pintu pagar mereka tertutup rapat semua. Mungkin karena sudah diberi tahu oleh Ketua RT setempat, atau mungkin juga budaya di lingkungan rumah mewah memang seperti itu.
Kami tiba disambut langsung oleh Sutarman dan istri di pintu gerbang rumahnya. Penyambutan yang cukup sederhana, hanya dipasang tenda di teras pekarangan, namun tidak sampai menutup jalan di depan rumahnya. Dengan mengenakan baju batik merah gradasi coklat dan celana warna coklat tua, Sutarman menyalami satu-satu anggota dewan yang baru turun dari bus.
Ada 16 orang anggota Komisi III DPR RI yang ikut dalam kunjungan itu. Mereka tiba dengan ikut rombongan bus dan ada juga yang menggunakan mobil pribadi tiba langsung di Bintaro. Istri Sutarman sendiri mengenakan kebaya putih modern, gaya Betawi turut menyambut kedatangan para anggota dewan.
Kami kemudian memasuki rumah yang kental bernuansa Jawa, dengan sedikit sentuhan Bali. Dengan atap limasan Joglo, teras depan dan pintu masuk ruang utama penuh dengan ukiran. Ukiran yang tidak murah, karena setahu saya ukiran-ukiran jati limasan seperti itu biasanya berasal dari Jawa Tengah atau Timur dan dibawa langsung dari sana. Nilai rumah gebyok macam ini sangat fantastis bagi ukuran orang biasa seperti saya.
Lantai rumah berlantai dua itu terbuat dari marmer, dan ketika saya memasuki ruang utama, terlihat benda-benda pajangan seperti keramik-keramik berukuran tanggung dan besar, dengan motif-motif indah. Aquarium yang berisi sebuah ikan arwana merah, dan kursi-kursi kayu, model furnitur adat Betawi.Para anggota Komisi III DPR itu dipersilakan duduk di kursi-kursi yang sudah disiapkan di ruang utama, persis di bawah atap ukiran Joglo Limasan Tumpang Sembilan, yang merupakan ciri dari rumah-rumah tradisional di Kudus, Jawa Tengah. Dengan gaya rumah seperti itu seolah ingin menunjukkan jati diri dari pemiliknya.
Namun perkiraan saya salah, ternyata Sutarman berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Memang gaya interior limasannya itu berasal dari Kudus, tapi dirinya bukanlah orang asli Kudus. Sutarman mengaku sebagai anak seorang petani miskin di Sukoharjo. Ia membangun karirnya dari nol sebagai polisi. "Orang tua saya miskin pak. Dan alhamdulillah sampai sekarang masih miskin," ujarnya.
Ibunya sudah meninggal. Sedangkan istrinya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sutarman menikah dengan Elly Sutiarti Sukandi dan dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya adalah perempuan, seorang dokter gigi yang bersuamikan polisi. Sementara anak kedua juga polisi sedang sekolah di Jepang, dan putra ketiganya sedang menempuh pendidikan lanjutan di Bandung juga sebagai polisi.
Menjawab sejumlah pertanyaan anggota Komisi III DPR RI, Elly Sutriani menjelaskan bahwa suaminya adalah sosok yang disiplin namun baik hati. "(Bapak) itu selalu mengajarkan saya untuk selalu santun dan rendah hati," imbuh Elly.
Setelah sesi tanya jawab, dan ngobrol-ngobrol ringan, tuan rumah kemudian mempersilakan kami untuk menyantap hidangan makan siang. Kami para pewarta disediakan dua stand menu, yaitu bakso dan empal daging, sementara para anggota Komisi III DPR RI dipersilakan untuk santap siang di ruangan sebelah ruangan utama yang terlihat dari lokasi kami.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Tjatur Sapto Edi mengatakan kunjungan itu merupakan rangkaian dari uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri. Menurutnya, hal itu penting untuk mengetahui tentang sosok calon Kapolri di mata keluarga, mengenai kekayaan dan lain-lainnya.
Sementara itu terkait isu yang menyatakan bahwa Sutarman terlibat kasus konflik antara KPK VS Polri, yang sempat akan menahan Kompol Novel Baswedan beberapa waktu lalu, anggota Komisi III DPR RI, Martin Hutabarat mengatakan, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Sutarman terlibat.
"Kalau dengan posisi beliau tidak ada bukti yang memberi petunjuk bahwa ada perintah langsung dari Kapolri. (sehingga) tidak ada sesuatu yang kuat menjadi alasan untuk menolak beliau menjadi calon Kapolri," kata Martin kepada Gresnews.com, Rabu (9/10).
Pada kesempatan yang lain, Ketua Kelompok Kerja Fraksi Demokrat Komisi III, Edi Ramli Sitanggang, menyatakan bahwa hampir seluruh anggota Komisi III DPR RI mendukung pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Menurutnya, track-record Sutarman selama ini dinilai baik, dan orangnya low-profile.
Sebelum mengakhiri kunjungan, Sutarman, sempat menegaskan rencana kedepan bila kemudian ia terpilih menjadi orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia itu. Sutarman menyatakan akan tegas memberantas korupsi. "Jadi kebersamaan dengan seluruh institusi termasuk KPK. kita harus membesarkan KPK. Dan kita harus bersama-sama KPK untuk memberantas korupsi yang sudah massive ini," kata Sutarman.
Dirinya akan tegas menindak siapapun jajarannya yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Selain itu, ia juga berkomitmen untuk merubah Kepolisian menjadi institusi yang lebih baik.
Obrolan yang sesekali diselingi oleh senda-gurau, antara keluarga Sutarman dengan anggota Komisi III DPR RI itu, pun harus berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Dan rombongan kami pun kembali ke kompleks DPR RI dengan protokoler seperti kami tiba tadi.
Meski berupaya tampil sederhana, Sutarman tak bisa dibilang miskin seperti pernyataannya saat menerima anggota Komisi III DPR. Lokasi rumahnya saja yang terletak di Komplek Bintaro Sektor Sembilan harga jualnya sudah diatas Rp 3 miliar. Belum lagi rumahnya yang penuh dengan ukiran kayu jati.
Hasil penelusuran Gresnews.com dari data Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) KPK jumlah harta kekayaannya mencapai Rp 5,3 miliar lebih. Ia tercatat memiliki harta berupa tanah dan bangunan senilai Rp 3,564 miliar yang terletak kota Tangerang Selatan. Sedang harta bergerak yang dimilikinya berupa mobil Alphard senilai Rp 325 juta dan kendaraan lain senilai Rp 117 juta. Harta lainnya berupa surat berharga Rp 231 juta dan giro setara kas Rp 1,1 miliar serta US$ 24.194.
Itu pun catatan LHKPN yang dilaporkan saat ia masih menjabat sebagai Kapolda Riau 2008 lalu. Belum diketahui pasti berapa nilai harta kekayaannya setelah menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal, sebab sejak itu ia tak memperbarui data laporan kekayaannya.
Saya pikir kunjungan para wakil rakyat ini sekadar seremoni saja. Mereka tidak benar-benar menggali asal usul kekayaan dari Sutarman. Saya mencoba menggunakan logika awam saja. Kalau memang Sutarman hanya hidup mengandalkan gaji dari Kepolisian RI rasanya sulit diterima nalar bila kekayaannya mencapai miliaran.
(Mungky Sahid/GN-04)
