Jakarta Darurat NICU/PICU!

Rumah sakit di Jakarta mengalami darurat Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Investasi untuk dua alat itu sangatlah mahal.

Post Image
NICU (lpch.org)

GRESNEWS - Rumah sakit di Jakarta mengalami darurat Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Investasi untuk dua alat itu sangatlah mahal. Delapan rumah sakit menolak untuk merawat Dera Nur Anggraini bukan karena kekurangan ruangan melainkan karena keterbatasan alat media, termasuk NICU dan PICU itu. Harus ada upaya cepat untuk mengoptimalkan anggaran kesehatan DKI Jakarta 2013 yang jumlahnya Rp2,9 triliun itu.

Begitulah argumen yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Dien Emawati di Jakarta, Selasa (19/2). "Kasus Dera tidak ada hubungannya dengan KJS (Kartu Jakarta Sehat), dan tidak ada hubungannya dengan pemberian perawatan untuk kelas III. KJS sudah benar dan clear, saya rasa tidak ada masalah. Namun, yang jadi masalah adalah alatnya (NICU) bukan juga ruangannya. Jadi akses pembiayaannya tidak ada hubungannya," ujar Dien.

Dien mengatakan, dari sebanyak delapan rumah sakit yang dihubungi oleh pihak keluarga Dera, tidak semua memiliki fasilitas NICU. Hanya empat yang memiliki NICU dan dari empat rumah sakit itu sedang penuh sehingga tidak bisa menerima Dera. "RS Harapan Kita (12 NICU), RS Fatmawati (3 NICU), RS Tarakan (12 NiCU), RSCM (10 NICU)," kata Dien menyebutkan nama rumah sakit itu.

Menurutnya, berdasarkan data seluruh rumah sakit DKI Jakarta yang memiliki NICU itu sebanyak 143 rumah sakit, sementara PICU untuk kapasitas lebih besar hanya kurang lebih 150. "Dengan dokter spesialis anak dan perawat yang stand-by 24 jam, tidak semua rumah sakit ada yang memiliki fasilitas seperti itu. Ke depannya jika DKI mau menambah, maka kapasitas dokter juga harus ditambah," imbuhnya.

Dien juga memaparkan berdasarkan data DKI Jakarta Critical Center, hanya sedikit rumah sakit yang mempunyai fasilitas ICU, IICU, NICU, dan PICU.

"Dari total keseluruhan di Critical Center rumah sakit yang mempunyai PICU dan NICU termasuk IGD berjumlah 154. Setiap rumah sakit mempunyai keunggulan tersendiri. Di RS Koja, misalnya, punya Traumatic Center, rata-rata korban yang dirujuk ke sana juga merupakan korban kecelakaan," katanya.

Menurut Dien, investasi untuk membeli NICU dan PICU sangat mahal. Satu alat NICU harganya ditaksir bisa mencapai Rp5 miliar.

"Ya, kalau begini mau tidak mau harus ada penambahan alat NICU di DKI untuk melayani kebutuhan warga meski nilai investasi yang tingggi, karena fasilitas NICU dan PICU itu tentunya digunakan untuk waktu jangka lama," ujarnya.
Dien mengatakan, dirinya telah menjelaskan terkait keterbatasan alat medis di rumah sakit kepada Gubernur Joko Widodo.

"Bapak Gubernur sudah mengetahui permasalahannya itu. Sebenarnya bukan kekurangan ruangan melainkan peralatannya inkubator, dan beliau berpesan agar supaya ditambah dan ditindaklanjuti ke depannya agar bisa dicari solusi dalam waktu dekat," ucap Dien.

Lebih lanjut Dien menjelaskan, rumah sakit di DKI Jakarta juga merupakan rumah sakit rujukan nasional sehingga kekurangan jumlah peralatan medis khusus

"Jumlah itu bukan cuma khusus kalau untuk DKI Jakarta, misal, ada orang Bogor, Depok, Bekasi, dan Tanggerang bisa ke DKI Jakarta apabila tidak ada fasilitas tersebut di rumah sakit di daerahnya, apalagi rumah sakit Jakarta merupakan rujukan nasional," jelasnya

Menurutnya, keterangan dari pihak rumah sakit akan menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut ke depannya.

"Nanti akan coba kita kumpulkan kita akan cari tahu, tahap selanjutnya kalau kurang akan peralatan tersebut kita harus segera merencanakan penambahan NICU dan PICU  untuk seluruh rumah sakit. Sebenarnya tidak ada alasan mereka untuk menolak karena ketika pasien diterima, biaya akan ditanggung Pemprov," ujarnya.

Klaim
Seperti dikutip dari laman medistra.com, banyak rumah sakit yang mengklaim telah memiliki NICU, namun sesungguhnya belum memenuhi standar. Angka kematian dan kejadian neonatal di negara-negara berkembang hingga saat ini masih tinggi. Meski demikian, unit-unit dan layanan kesehatan, belum bisa berbuat banyak yang disebabkan upaya yang dilakukan selalu terganjal banyak kendala. Antara lain belum tersedianya infrastruktur dan peralatan yang memadai serta minimnya tenaga medis dengan latar belakang pendidikan khusus NICU.

Idealnya, penanganan kasus neonatal harus dilakukan dalam ruang perawatan khusus yang terdiri dari tiga level, berdasarkan derajat kesakitan, risiko masalah dan kebutuhan pengawasannya. Level pertama adalah untuk bayi risiko rendah, dengan kata lain bayi normal yang sering digunakan istilah rawat gabung ( perawatan bersama ibu) atau Level II untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu intensif.  Pada level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam,  akan tetapi perbandingan perawat dan bayi tidak perlu 1-1. Sedangkan pada level  III, pengawasan yang dilakukan benar-benar ekstra ketat. Satu orang perawat yang bertugas hanya boleh menangani satu pasien selama 24 jam penuh. Pada ketiga level peran dokter boleh dibagi, artinya 1 orang dokter pada ketiga level, akan tetapi dengan keterampilan dan pengetahuan khusus mengenai masalah gawat darurat pada neonatus.

Sesuai dengan namanya, perawatan intensif harus dilakukan secara khusus oleh seorang perawat terus menerus selama 24 jam. Tapi kalau perawatan dilakukan terhadap beberapa pasien, itu namanya bukan intensif. Tujuannya, agar kita bisa merawat bayi-bayi risiko tinggi secara baik dan benar. "Sehingga bayi yang sakit itu jangan sampai meninggal. Setelah dirawat, dia harus sembuh. Dan sembuhnya itu juga bukan sekadar sembuh, tapi kalau bisa sembuh tanpa cacat," tegas Kepala Unit Neonatal Rumah Sakit Medistra, Dr. Eric Gultom Sp.A.

Sebelumnya diberitakan, setelah seminggu melawan penyakitnya, seorang bayi bernama Dera Nur Anggraini mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (16/2/2013). Dera meninggal pada pukul 18.00 WIB di Rumah Sakit Zahira, Jakarta Selatan.

Beberapa rumah sakit yang tak menerima bayi Dera karena ruang kelas III dan fasilitas penuh, antara lain Rumah Sakit Pasar Minggu, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Harapan Kita Slipi, Rumah Sakit Harapan Bunda Pasar Rebo, Rumah Sakit Asri Duren Tiga, Rumah Sakit Tria Dipa, Rumah Sakit St Carolus, Rumah Sakit Budi Asih Cawang, Rumah Sakit Zahirah Ciganjur, Jagakarsa, dan Rumah Sakit Pusat Pertamina.