Syamsir Alam, Nasionalisme, dan Carut Marut Sepakbola Kita
Panggilan memperkuat timnas adalah puncak karier sepakbola yang tidak bisa dinilai dengan gepokan rupiah. Memperkuat timnas sepakbola adalah mahkota bagi seorang pesepakbola, siapa dan di manapun jua.
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang..
GRESNEWS - Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali mengatakan ada tiga momentum sebuah bangsa bersatu dan menumbuhkan nasionalisme, yakni, perang, bencana, dan olahraga. Berbeda dengan perang dan bencana yang mengharubirukan dengan air mata kesedihan, konstruksi nasionalisme olahraga adalah menyenangkan dan menggairahkan sebagaimana nyanyian Grup Netral di atas.
Perhelatan turnamen Piala AFF 2010 adalah bukti sohih bagaimana olahraga membangkitkan dan menghipnotis rakyat negeri ini. Pelatih Alfred Riedl menyuntikan harapan akan kebangkitan prestasi sepak bola nasional yang sekian lama terpuruk. Meski gagal memberikan gelar setelah ditekuk Malaysia di partai pamungkas, rakyat tidak terlalku kecewa. Sebaliknya dari kekalahan itu membangkitkan kesatuan untuk menaggung bersama kekalahan tersebut dalam satu bentuk kebanggaan terhadap timnas yang bernama nasionalisme.
Di tengah kisruh sepakbola nasional yang tecermin dalam konflik PSSI dengan KPSI; LPI versus LSI, kabar salah satu pemain timnas U-23, Syamsir Alam, bergabung dengan DC United adalah oase tersendiri. Apalagi dua media Amerika Miami Herald dan Foxnews menurunkan berita tentang bergabungnya Syamsir Alam ke DC United.
Syamsir Alam merupakan pemain muda Indonesia yang menjejakkan kaki dalam kancah sepakbola internasional. Ia sempat bermain awal di Penarol, Uruguay, yang merupakan salah satu tim favorit di Uruguay, kemudian berpindah ke klub Heerenveen dan Vitesse yang. Tak heran bila General Manager DC United, Dave Kasper menyambut baik kedatangan Syamsir Alam. "Syamsir adalah pemain muda yang menempati posisi gelandang tengah dengan kemampuan teknik yang baik. Kami melihat masa depan dari hasil peminjaman tersebut."
Perjalanan karier Syamsul dimulai di Sekolah Sepakbola Depok, SSB AS IOP, SSB Makassar FC/Timnas U-11 (berlaga di ajang Piala Dunia U-11/Danone Nations Cup di Paris, Perancis 2003), Timnas U-14 (Piala Asia U-14 2004), Timnas U-23 2006 (magang), Timnas U-19 (Pra Piala Asia U-19 2007 di Vietnam), PSJS Jr U-18, Timnas U-17, SAD Indonesia, Timnas U-19 (Kualifikasi Piala Asia U-19 2009), Atletico Penarol (Uruguay), dan C.S. Vise.
Benar adanya Syamsir bukan pemain Indonesia pertama yang bermain di luar negeri, tetapi minimal ia memberi setitik harapan tentang kiprah pemain nasional di liga negeri lain. Dalam rentetan sejarah sepakbola nasional, tercatat beberapa nama yang pernah berkiprah di mancanegara. Antara lain, Abdul Kadir dan Risdianto (Hongkong), Ricky Yakob (Matsushita FC, Jepang), Iswadi Idris (Australia), Robby Darwis (Kelantan, Malaysia), Bima Sakti - (FC Helsingborg, Swiss) Kurniawan Dwi Yulianto (Primavera Sampdoria, Italia, FC Luzern, Swiss, dan Sarawak, Malaysia), Kurnia Sandy (Sampdoria, Italia), Rochi Putiray (Kitchee FC dan South China, Hong Kong), dan Elie Aiboy (Selangor, Malaysia), Bambang Pamungkas (EHC Norad, Belanda, Selangor, Malaysia), Ponaryo Astaman (Telecom Malaka) dan Budi Sudarsono (Polisi Diraja Malaysia). Yang paling hangat adalah Arthur Irawan bersama Espanyol, Spanyol.
Tingkatkan nasionalisme
Penghinaan suporter Malaysia ketika Timnas Indonesia dalam Piala AFF lalu, yang tersebar melalui sontak media sosial (youtube, twitter, dan facebook) sontak membangkitkan kemarahan bukan hanya sepakbola maniac, tetapi mengglobal dalam rakyat Indonesia. Nasionalisme masyarakat Indonesia bangkit dan beragam komentar pun bergema, dari yang sopan sampai sumpah serapah. Apalagi banyak kasus ´penghinaan´ Negeri Jiran terhadap anak negeri ini, Indonesia, terutama yang diterima ribuan Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia.
Secara global, pertandingan internasional, Inggris versus Argentina dan Jerman lawan Belanda, Amerika kontra Iran selalu menyimpan aroma nasionalisme yang sangat kuat. Sentimen anti tim lawan kental terasa. Argentina akan selalu ingat dengan kekalahan dalam Perang Malvinas. Begitu juga dengan Jerman vs Belanda dan Amerika lawan Iran.
Yang jelas, sepak bola menjadi magis dalam meningkatkan sepakbola nasional. Ketika timnas Inggris yang bertabur bintang terus terpuruk memunculkan kritik terhadap Liga Inggris yang berisi bintang-bintang internasional. Bahkan, Arsenal pernah tampil tanpa pemain kebangsaan Inggris. Kondisi ini membuat pemain muda, sebagai cikal bekal timnas senior Inggris tidak berkesempatan tampil.
Dualisme kompetisi dan induk organisasi telah memporakporandakan timnas sepakbola negeri ini. LSI yang berinduk ke KPSI melarang pemain yang bernaung di klub yang berlaga di LSI membela timnas yang dikuasai PSSI pimpinan Djohar Arifin. Kekalahan 0-10 dari Bahrain dalam kualifikasi Piala Dunia Zona Asia 2014, di National Stadium Manama, Rabu, 29 Februari 2012 adalah puncak penderitaan timnas akibat perpecahan sepakbola nasional.
Lumrah ketika Andik meluapkan emosinya pasca mencetak gol kemenangan atas Singapura dalam Piala AFF lalu. "Masyarakat boleh membenci PSSI dan KPSI , tapi jangan membenci timnas, karena kami mengharapkan dukungan dari masyarakat Indonesia." Yang ditekankan Andik adalah dukungan masyarakat Indonesia, bukan dukungan PSSI atau KPSI.
Bermain di kompetisi luar negeri seperti yang dijalani Syamsir Alam selama ini tidak menghilangkan rasa nasionalismenya. Buktinya, Syamsir selalu memenuhi panggilan timnas ketika tenaganya dibutuhkan. Persis seperti para pemain interansional di berbagai belahan dunia. Ketika negaranya memanggil untuk memperkuat timnas, mereka akan datang dengan senang hati dan rasa memiliki bangsa dan negaranya.
Di tengah carut-marut sepakbola nasional, keberangkatan Syamsir ke Amerika Serikat memiliki nilai positif. Minimal, ia tidak terkooptasi PSSI dan KPSI; tak terkurung LPI atau LSI. Artinya, Syamsir bisa bermain ketika timnas membutuhkan, siapapun yang menguasai induk sepakbola negeri ini. Karena panggilan memperkuat timnas adalah puncak karier sepakbola yang tidak bisa dinilai dengan gepokan rupiah. Memperkuat timnas sepakbola adalah mahkota bagi seorang pesepakbola, siapa dan di manapun jua. Go Syamsir... Go Syamsir...
