2014, Indonesia butuh pasokan 10 juta metrik ton LNG
"LNG tersebut diperlukan untuk Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat 3 juta MTA yang akan beroperasi awal Maret 2012 dan FSRU Jawa Tengah dengan kapasitas 3 juta MTA yang akan mulai beroperasi kuartal pertama 2013," papar Vice President Corporate Communication Pertamina, Mochamad Harun, di Jakarta, Jumat (27/1).
Jakarta - Pada 2014 mendatang Indonesia diperkirakan membutuhkan LNG sebanyak 10 juta metrik ton atau separuh dari LNG yang selama ini diekspor.
"LNG tersebut diperlukan untuk Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat 3 juta MTA yang akan beroperasi awal Maret 2012 dan FSRU Jawa Tengah dengan kapasitas 3 juta MTA yang akan mulai beroperasi kuartal pertama 2013," papar Vice President Corporate Communication Pertamina, Mochamad Harun, di Jakarta, Jumat (27/1).
Pasokan LNG itu juga dibutuhkan untuk revitalisasi kilang Arun di Aceh menjadi LNG Receiving Terminal dengan total kapasitas 3 juta MTA yang mulai beroperasi pada awal 2013 dan mini LNG Receiving Terminal bersama PLN untuk Tanjung Batu, Batakan, Balikpapan, Semberah, Bali, Pomala, Jeneponto, Tello, Minahasa dan Halmahera dengan total kapasitas 1 juta MTA.
Terkait dengan keekonomian gas bumi, harga yang masih bisa diterima konsumen domestik saat ini adalah sekitar US$9 per juta Btu, atau hampir tiga kali lipat dari harga LNG Tangguh yang diekspor dengan hanya US$3,35 per juta Btu. "Dengan harga yang jauh lebih baik ini tentu akan memberikan keekonomian proyek hulu yang lebih baik, meningkatkan pendapatan negara dan menghindari potensi kerugian negara seperti ekspor LNG ke Fujian," tutur Harun.
Bisnis gas bumi memiliki karakter supply driven yang berarti pertumbuhan konsumsinya sangat dipengaruhi oleh kepastian pasokan yang menjadi modal awal untuk berinvestasi infrastruktur. Untuk membangun infrastruktur tersebut, memang diperlukan kepastian konsumen awal dan Pertamina telah mengidentifikasi potensi permintaan bahkan telah menerima surat resmi permintaan konsumen gas baik di Jawa maupun Aceh.
"PLN dan Pertamina juga sudah menandatangani Head of Agreement Perjanjian Jual Beli Gas untuk pasokan ke PLTGU Tambak Lorok. PT Pupuk Iskandar Muda yang nanti juga direncanakan mengelola pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer yang sekarang masih mati suri, telah menyatakan permintaan gas kepada Pertamina. Listrik dan pupuk merupakan dua prioritas khusus pemerintah saat ini selain industri lainnya," papar Harun.
"Dengan kisaran kemampuan konsumen domestik itu sudah cukup menjembatani antara kebutuhan penerimaan negara dan misi pemerintah dan BPMigas untuk menjadikan sektor migas sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional dengan menjadikan gas bumi sebagai bahan baku dan sumber energi domestik yang jauh lebih murah dibanding minyak," pungkas Harun.
