Bhineka Tunggal Ika, serangkaian kata yang dirumuskan oleh Mpu Tantular dan salah satu pilar-pilar kebangsaan Indonesia. Rangkaian kata itu telah menjadi semboyan tanah merdeka ini, terukir jelas dalam lambang negara kita dan dicengkram erat oleh burung Garuda. Bhineka tunggal ika, kurang lebih jika dimaknai adalah berbeda-beda tetapi tetap satu. Menggambarkan suasana Indonesia yang dibangun dari berbagai suku, agama, warna kulit dan budaya.
Perbedaan-perbedaan itu sudah ada sejak dahulu kala, perbedaan itu disikapi oleh Bung Karno dengan cara menggalinya di bumi Indonesia ini, sehingga tercetuslah Pancasila.
Pancasila merupakan satu karya agung bangsa yang bersumber dari sari-sari bumi Indonesia dan dasar falsafah (philosofische grondslag). Pancasila hadir bukan untuk mengistimewakan satu golongan tertentu, suku tertentu ataupun agama tertentu. Negara Indonesia dibangun diatas sila-sila pancasila, yaitu untuk semua kalangan tanpa ada diskriminatif, tanpa ada meletakkan golongan tertentu ditempat yang tertinggi tetapi semua Apapun yang terjadi kita harus menegaskan bahwa Pancasila tidak bisa ditawar untuk diganti dengan falsafah apapun.
Pancasila merupakan satu komitmen kebangsaan kita yang telah berakar. Bukan lagi saatnya berpikir untuk menggantinya, tetapi marilah kita mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa kita. Saatnya kita mewujudkan suatu Ketuhanan yang berkebudayaan, yang lapang dan penuh toleransi. Mewujudkan prinsip kebangsaan yang berlandaskan jiwa gotong-royong, mengembangkan persatuan dalam keberagaman.
Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan keberagaman yang ada diobrak-abrik oleh mereka pengingkar keberagaman dan toleransi. Penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah dibeberapa wilayah, pengrusakan sejumlah Gereja di Temanggung dan penutupan sejumlah rumah ibadah oleh organisasi masyarakat sipil. Celakanya mereka yang kerap melakukan kekerasan tersebut, tidak punya rasa bersalah dan menganggap tindakan yang mereka lakukan adalah benar. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang merasa benar dijalan yang sesat.
Jangan Ganti Pancasila
Beberapa pihak berusaha untuk mengganti Pancasila dengan falsafah-falsafah tertentu. Negara Islam Indonesia begitulah mereka menyebut dirinya, mereka berusaha untukmengubah Negara Indonesia menjadi Negara Agama dan meniadakan Pancasila. Pemikiran-pemikiran demikian tentu saja mengganggu kelangsungan NKRI. Kita sebagai warga yang hidup dalam pluralistik harus berkata Tidak terhadap usaha-usaha yang demikian.
Tetapi hari ini kita dapat melihat, seolah-olah negara lemah terhadap mereka yang coba meniadakan Pancasila. Padahal pihak-pihak tersebut kerap kali merekrut orang-orang untuk mengikuti gagasan mereka. Bukan hanya satu dua orang saja yang mereka rekrut, sudah banyak yang mereka rekrut, terlebih mereka merekrut generasi muda penerus bangsa.
Sampai kapan kita dapat memberikan toleransi terhadap mereka yang coba meniadakan Pancasila? Seharusnya tidak ada tempat satu centimeter pun bagi mereka direpublik ini jika mereka menolak Pancasila.
Ada gagasan untuk memasukkan kembali Pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan, untuk mereduksi berkembangnya ideologi-ideologi tertentu yang berniat meniadakan Pancasila. Gagasan tersebut memang sangat tepat, mengingat selama reformasi ini Pancasila mulai sedikit ditinggalkan. Sebab selama ini ada pemikiran bahwa Pancasila berkaitan dengan Orde Baru dan Seoharto. Tetapi sejatinya yang terpenting adalah substansi Pancasila dalam implementasinya.
Hal sepele saja, apakah semua pejabat negeri hapal dan paham tentang sila-sila Pancasila? Ada baiknya jika para pemegang kebijakan negeri ini terlebih dahulu memahami Pancasila dan mengaplikasikannya dalam sikap dan kebijakan-kebijakan yang mereka buat.
Gotong-royong dalam Pluralisme
Bung Karno pernah berkata bahwa dari lima sila Pancasila jika diperas maka akan menjadi Tri Sila yaitu, socio-nationalisme, socio-democratie, dan ke-Tuhanan. Dari Tri Sila tersebut jika diperas lagi maka akan menjadi satu perkataan yaitu gotong-royong, dan gotong-royong adalah dasar dari semua sila Pancasila.
Gotong-royong adalah satu prinsip milik bangsa Indonesia dan tumbuh harmonis disela-sela kehidupan masyarakat Indonesia. Optimisme kita akan Pancasila ialah bersumber dari jiwa gotong-royong yang telah berakar ditengah-tengah masyarakat kita, dalam semangat kegotong-royongan kita membangun national building atau yaitu strategi untuk menjaga pluralisme ditengah realita sosial yang pesimistik. Dengan kegotong-royongan inilah kita sebagai keluarga besar bangsa yang disebut Indonesia membangun peradaban Indonesia demi masa yang akan datang.
Walaupun pada dasarnya kita semua memiliki perberbedaan, namun semua itu harusnya tidak mengurangi semangat kegotong-royongan dalam membangun bangsa.
Perbedaan itu akan menjadi satu kekuatan jika diramu sesuai dengan sila-sila Pancasila,
perbedaan diletakkan pada porsi masing-masing, jangan sampai bertentangan dengan
semangat kebangsaan kita. Mulailah kita mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk yang kerap
dilakukan, menerapkan hitungan-hitungan yang sifatnya kuantitatif untuk menggambarkan
keberagamana kita.
Seperti penggunaan istilah mayoritas-minoritas, lokal-nasional, Jawa dan luar Jawa, sebab hal itu dapat menyisihkan kelompok-kelompok yang jumlahnya kecil dan merusak kebhinekaan kita.
Wandi Manullang
Mahasiswa Magister Manajemen UGM
