Berhasilkah APP menjadi ´quick winner´ seperti GAR?

Tahun 2015 tak ubahnya seperti tahun "magic". Beberapa korporasi besar yang menggantungkan sumber bahan bakunya dari hasil deforestasi, ramai-ramai memilih tahun 2015

Post Image
Foto: iklimkarbon.com

Tahun 2015 tak ubahnya seperti tahun "magic". Beberapa korporasi besar yang menggantungkan sumber bahan bakunya dari hasil deforestasi, ramai-ramai memilih tahun 2015 untuk memulai konsumsi bahan baku ´100% sustainable´ atau mengakhiri konsumsi bahan baku ´100% unsustainable´.

Awal April 2011, Asia Pulp and Paper (APP) mengumumkan untuk tidak lagi menggunakan bahan baku hutan alam setelah akhir 2015. Artinya, pasca 2015, APP akan menggunakan 100% bahan baku yang bersumber dari hutan tanaman industri yang dimilikinya.

Pengumunan APP tersebut setidaknya telah memperjelas bahwa APP akan tetap terus menggunakan bahan baku kayu alam dari hasil ´land clearing´ hutan alam dalam lima tahun ke depan.

Greenomics Indonesia menduga, APP cukup jeli "mempelajari" tren korporasi global, yang juga menggunakan tahun 2015 sebagai tahun memulai "100% sustainable practices" atau mengakhiri ´100% unsustainable practices´. Ambil contoh Nestle dan Unilever.

Nestle dan Unilever baru mampu memasok 100 persen CPO lestari sebagai bahan bakunya pada tahun 2015. Pada tahun 2010, Nestle baru mampu memasok CPO lestari sebesar 18 persen, dan ditargetkan untuk ditingkatkan hingga 50 persen pada 2011. Sedangkan Unilever, baru mampu memasok kebutuhan CPO lestari lebih dari 35 persen pada tahun 2010.

Terhadap target "sustainability" Nestle dan Unilever tersebut, terlihat hampir tak ada "gejolak" atau gelombang protes, terutama dari pasar global. Atau misalnya, tidak ada ajakan untuk memboikot produk Nestle dan Unilever hingga tahun 2015 karena hingga tahun tersebut kedua korporasi besar itu masih belum mampu memasuk 100% CPO lestari.

Karena tak ada protes atau ancaman boikot itu pulalah, Greenomics menilai, tahun 2015 benar-benar seperti tahun mujarab, karena korporasi-korporasi raksasa yang terkait dengan deforestasi, telah menjadikan tahun 2015 sebagai tahun untuk memulai "sustainable practices" atau mengakhiri "unsustainable practices".

Greenomics juga menduga, APP juga "melirik" langkah kelompok bisnis satu grup-nya (Sinar Mas), yakni Golden-Agri Resources (GAR), yang juga menggunakan tahun 2015 sebagai tahun mengakhiri "unsustainable practices" -- dengan target mendapatkan sertifikat RSPO dan bersedia "dipandu" oleh The Forest Trust (TFT).

Daud Dharsono, Presiden Direktur PT. SMART Tbk, anak usaha GAR, mengakui bahwa GAR membutuhkan figur ekspatriat untuk menghadapi tekanan-tekanan lingkungan dari pihak internasional terhadap operasi GAR selama ini. Sesederhana itukah strategi GAR? Tentu Daud Dharsono yang merasakannya dan paling mampu menjawabnya.

Memang, pasca penandatanganan kerjasama GAR-TFT -- yang dilakukan pada tanggal 9 Februari 2011 lalu di Jakarta -- tudingan dan klaim bahwa operasi GAR yang dinilai telah melakukan pelanggaran hukum, deforestasi hutan alam dan perusakan lahan gambut, seperti tak terdengar lagi. Bahkan, GAR yang sempat "dikeluarkan" dari keanggotaan RSPO, juga telah kembali bergabung menjadi anggota RSPO pada awal April 2011.

Begitu kuatkah efektivitas figur ekspatriat seperti yang dikatakan oleh Daud Dharsono tersebut? Memang terbukti, GAR terkesan begitu cepat dapat keluar dari tudingan dan klaim buruk yang mereka terima selama ini.

Pernyataan Daud Dharsono soal ´kebutuhan´ terhadap figur ekspatriat dalam menghadapi isu lingkungan, tentu menimbulkan beberapa pertanyaan.

Pertama, pertanyaan yang dengan mudah terlintas, yakni apakah dengan menggunakan figur ekspatriat yang "sedang digunakan dan atau dimanfaatkan" oleh GAR tersebut, maka akan dengan mudah "melenyapkan" tudingan dan klaim atas pelanggaran hukum, perusakan hutan alam dan lahan gambut yang ditujukan terhadap operasi GAR selama ini?

Pertanyaan tersebut tentu tidak bisa dijawab ya atau tidak. Namun, faktanya adalah tekanan-tekanan ´miring´ terhadap operasi GAR yang sering terdengar selama ini, seperti telah "tersapu bersih" menjelang dan pasca perjanjian GAR-TFT tersebut.

Kedua, pertanyaan yang muncul terkait dengan esensi; apakah jika APP mengikuti ´formula Daud Dharsono´ yang ´memanfaatkan´ figur ekspatriat yang tepat -- katakanlah jika APP juga menggunakan figur ekspatriat yang saat ini sedang digunakan GAR -- maka APP juga bisa dengan sesederhana itu dapat "melenyapkan" tekanan-tekanan atas isu deforestasi dan perusakan lingkungan yang sudah begitu melekat pada operasi APP? Tentu saja tak ada yang bisa menjamin. Kecuali, jika APP mencobanya, dan melihat sendiri hasilnya.

Ketiga, pertanyaan relevan lainnya adalah, apakah selama ini APP telah salah memilih figur ekspatriat, sehingga belum mampu "meredam" kritik dan kecaman keras terhadap operasi APP? Jawabannya juga tidak bisa ´hitam putih´. GAR memang terlihat lebih piawai dalam hal ini.

Terlepas dari soal figur ekspatriat tersebut, sebagai buktinya, saat ini GAR telah berhasil "merebut kembali" yang telah hilang dari "genggamannya" dan "menyapu bersih" isu-isu lingkungan yang telah memberi citra dan dampak buruk terhadap operasi GAR dalam membangun perkebunan sawitnya.

Greenomics benar-benar tercengang atas kepiawaian GAR tersebut, yang dalam waktu sangat pendek, mampu ´memutarbalikkan´ semua keadaan.

Keempat, apakah kombinasi antara pemilihan ´ekspatriat yang tepat´ dan ´menggunakan tahun 2015´ sebagai tahun penentu ´sustainability´ adalah strategi pamungkas yang dapat ´meredam´ isu deforestasi dan lingkungan yang kerap menghantam GAR?

Greenomics sama sekali tak terkejut, ketika APP terkesan ´ikut-ikutan´ menggunakan tahun ´magic´ 2015 untuk mengakhiri pemanfaatan kayu alam sebagai bahan baku produksinya. Itu adalah hak mereka untuk mengikuti tren 2015.

Target APP 2015, bisa saja terhadang. Ada ´harapan tersisa´ dari pernyataan Menteri Kehutanan, yang pada Januari 2011 lalu, telah memberikan batas hingga akhir 2012 sebagai "deadline" pemanfaatan hutan alam sebagai bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia. Itu pun kalau Menteri Kehutanan tidak "terpengaruh" oleh tren 2015.

Lalu, apakah ada harapan tersisa untuk "menghadang" Nestle dan Unilever yang akan terus mengkonsumsi CPO dari sumber yang tak lestari hingga mereka mampu mencapai tingkat konsumsi ´100% CPO lestari´ pada 2015? Jika harapan itu tak ada, maka APP tentu akan semakin percaya diri dengan implementasi target 2015-nya tersebut.

Bukan tak mungkin, APP juga dengan mudah mempertanyakan; mengapa hanya mereka yang dipertanyakan soal "target akhir 2015"-nya, bagaimana dengan Nestle dan Unilever misalnya, yang menyatakan baru tahun 2015 mampu menggunakan 100% CPO lestari sebagai bahan bakunya? Bukankah sama-sama terkait dengan deforestasi dan isu lingkungan?

APP juga dengan mudah bisa meyakinkan Pemerintah Indonesia dengan menyodorkan fakta bahwa korporasi-korporasi global juga memasang target ´sustainable´ pada awal atau akhir 2015, sehingga tak ada yang salah dengan target APP untuk terus mengkonsumsi kayu alam hingga akhir 2015.

Ternyata pasang target ´sustainable´ dengan menggunakan tahun 2015, memang telah berhasil ´mengantarkan´ korporasi-korporasi raksasa tertentu untuk ´menenggelamkan´ tekanan-tekanan soal deforestasi dan lingkungan yang sebelumnya ditujukan kepada mereka.

Lalu, akan berhasilkah APP mendulang sukses seperti korporasi-korporasi raksasa lainnya tersebut? Atau, apakah APP akan meniru langkah GAR, yang dengan mudah dapat meraih predikat ´quick winner´? Let´s see!

Elfian Effendi
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia