Momentum kebangkitan bangsa maritim

Indonesia dengan sejuta potensinya, sejak dahulu sampai sekarang merupakan sebuah negara besar. Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil tinta emas para pahlawan

Post Image
Foto: pulauseribu.net

Indonesia dengan sejuta potensinya, sejak dahulu sampai sekarang merupakan sebuah negara besar. Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil tinta emas para pahlawan Indonesia. Hal tersebut membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa besar. Potensi sumber daya alam yang begitu melimpah, yang seringkali kita terlelapkan dengannya, sehingga seringkali pula kita hanya mengumpat keadaan yang tak adil ketika tangan-tangan asing bermain diatas pemanfaatan sumberdaya alam kita. Dan sekali lagi ini membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar. Namun dewasa ini, kebesaran bangsa kita tak selalu berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan masyarakatnya, terutama masyarakat pesisir dan lebih khusus kepada nelayan.

Tanggal 6 April adalah salah satu hari besar Bangsa Indonesia, yaitu Hari Nelayan Indonesia. Namun apakah masyarakat Indonesia pada umumnya mengetahui akan perihal momentum ini? Ataukah justru kita sebagai insan perikanan dan ilmu kelautan yang baru tahu pada hari ini juga?

Kita semua tahu bahwa menjadi seorang nelayan merupakan sebuah pilihan yang tidak mudah. Pilihan yang belum tentu setiap orang mampu memikulnya. Kita semua juga tahu bagaimana kondisi nelayan Indonesia hari ini, melaut ketika cuaca mendukung dan tidak ketika cuaca ekstrem. Bahkan tak jarang nelayan yang memberanikan diri untuk tetap melaut kendati cuaca tidak bersahabat, demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Berdasarkan data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara), tahun 2003-2008, sekitar 1,2 juta nelayan tangkap sudah meninggalkan laut. Sebagian dari mereka beralih profesi ke sektor informal di luar perikanan tangkap, misalnya, menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, atau tukang ojek.

Survei dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Republik Indonesia pada tahun 2009 menyebutkan bahwa persentase penduduk miskin Indonesia di daerah kota adalah 10,72%, sementara di daerah desa adalah 17,35%. Kita tahu bahwa sedikitnya 60% penduduk Indonesia tinggal dan beraktivitas di pesisir. Dengan jumlah nelayan Indonesia berkisar 2,7 juta jiwa, dan 80% diantaranya nelayan skala kecil dan tradisional dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT). Artinya masih terdapat 17,35% penduduk miskin di daerah desa pesisir Indonesia dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa.

Momentum Hari Nelayan seharusnya menjadi sebuah momentum untuk memasyarakatkan nelayan kepada masyarakat Indonesia secara luas. Memberitahukan bahwa nelayan juga merupakan bagian penting dalam masyarakat Indonesia. Seringkali masyarakat pesisir, termasuk nelayan, menjadi kaum yang termarjinalkan, baik oleh pemerintah pusat ataupun daerah. Seringkali sebuah kebijakan tidak sampai ke akar objeknya, hanya sampai di tataran birokrat.

Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang seimbang antara pembangunan di perkotaan dengan pedesaan. Jangan hanya saat momentum pemilihan umum beramai-ramai memberikan angin segar yang setelahnya hilang dibawa panas matahari. Masyarakat kita saat ini tidak bodoh dengan realita yang ada, mereka mengerti akan keadaan yang sedang terjadi.

Kita semua merindukan kehidupan nelayan yang sejahtera, nelayan yang bebas dari jeratan -rentenir-rentenir pesisir, bebas dari kekhawatiran keamanan laut, dan bebas dari tekanan harga pasar dan kebuhtuhan pokok. Kita merindukan nelayan yang berpendidikan dan terbebas dari angka buta huruf. Kita merindukan nelayan yang memiliki armada dan informasi yang memandai untuk memutuskan kapan waktu yang tepat untuk melaut sehingga mendapat hasil yang memuaskan.

Dengan momentum Hari Nelayan Indonesia hari ini, semoga kualitas hidup masyarakat pesisir pada umumnya, dan nelayan pada khususnya mengalami peningkatan dengan lebih mendapat perhatian dari segenap elemen bangsa yang peduli akan kondisi bangsa Indonesia, khususnya pesisir.

Nelayan Sejahtera, Indonesia Merdeka.

Furkon al-Hafiz
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran