Jalan, kunci kemajuan rakyat Aceh
Jalan ke lokasi peternakan dan perkebunan yang bertempat di daerah Peudada, Bireun, masih seperti jalan di masa serdadu.
Jalan merupakan alat penghubung yang paling penting di gunakan di negara-negara maju. Di Denmark misalnya seluruh jalan yang di peruntukkan bagi kegunaan umum dan masyarakat selalunya di buat dengan bagus, tahan lama, dan tidak terputus, dengan demikian rakyatnya bisa dengan senang bepergian ke mana saja tujuannya tanpa hambatan, bagi orang Aceh yang pernah ke Denmark bisa melihat bagaimana nikmatnya saat berada di jalan raya, tidak sesak apa lagi di tambah dengan sistim transportasi yang sangat bagus. Kualitas jalan dibuat sama dan tidak membedakan jalan kota dengan jalan desa.
Jika di lihat dari mata kasat, di musim panas misalnya, Denmark bagaikan sebuah lukisan, indah sekali memang, karena pemerintah berperan aktif melakukan tugas-tugas yang menjadi kepentingan masyarakatnya. Pembangunan jalan ke segala penjuru menjadikan kehidupan masyarakat lebih murah dan perekonomian akan berkembang pesat dalam jangka waktu yang relatif pendek dari sebuah negara yang menjadikan jalan hanya sebagai bagian yang tak penting.
Untuk meyakinkan bahwa tanpa alat transportasi yang bagus rakyatnya akan tertinggal jauh, bisa saja di lihat perbedaannya antara Aceh dan Malaysia, yang notabene suatu saat dahulu Aceh lebih maju. Malaysia punya sistim jalannya yang jauh lebih bagus di bandingkan Aceh, hidup rakyatnya jauh lebih sejahtera, dan bisa dilihat bagaimana rakyat Aceh dan Indonesia berbondong-bondong ke Malaysia.
Jangan terlalu sulit mendapat jawaban jika memikirkan mengapa petani, peternak dan pelaut miskin. Kesalahan pola pembangunan yang di terapkan oleh pemerintah Aceh, yang mungkin karena terlalu mengadopsi dari hasil studi banding para pejabat-pejabat dan anggota dewan ke daerah –daerah yang tak sesuai atau boleh juga karena perencanaan yang selalu tidak memihak kepada rakyat miskin maksudnya petani, penternak dan pelaut oleh pemerintah itu sendiri.
Saya coba mengambil contoh petani di Peucoek Alue Rhéng, Bireuen. Saya bertanya tentang situasi pekerjaan dan pertanian, salah seorang wara, Pak Mukim, memberitahu ”Ureng tanjoe han geutém lé pula kacang kunéng sebab pemerintah meu jalan han geu tem peugeut” (Orang kita tak mau lagi tanam kedele karena jalan saja tak mau di bangun oleh pemerintah).
Padahal, lanjut Pak Mukim, pada Juni 2009 Menteri Pertanian Anton Apriantono sudah sampai ke kampung Alue Sijuek, Peucoek Alue Rhéng, karena menjadi kampung pilihan terbaik kacang kedele, namun pemerintah dari tingkat kecamatan hingga ke kabupaten dan seterusnya tidak malakukan apa pun untuk mendukung para petani bangkit, jadi karena jalan tidak dibangun petani sulit ke ladang akhirnya semakin hari semakin bertambah jumlah kemiskinan, terutama sekali dari golongan petani.
Saya sebagai Cucoe Endatu yang berasal dari Aceh bisa merasakan bahwa kaum petani, peternak dan pelaut merupakan aset bangsa yang memiliki peran sangat besar dan strategis dalam membangkitkan perekonomian Aceh, karena hasil pertanian merupakan kebutuhan yang menyeluruh dari rakyatnya.
Saya menaruh kepercayaan kepada pemerintah, dewan, akademisi, orang kaya, ulama dan lembaga-lembaga masyarakat untuk memulai mengubah pola pikir dalam menghasilkan program ke depan dengan menjadikan jalan yang bagus serta berkualitas sebagai prioritas utama.
Membangun tidak semudah membalik telapak tangan kata orang, tapi saya mempunyai pandangan lain khususnya dalam membangun Aceh. Aceh memiliki tanah yang cukup subur, memiliki kemudahan air yang melimpah, iklim yang bagus merupakan modal yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai bentuk usaha dalam membangun Aceh.
Membangun lebih mudah dari merusak, membangun lebih nikmat dari membiarkan patut menjadi acuan yang serius untuk di pertimbangkan oleh pelaksana amanah yang berbayar dengan uang milik bersama rakyat. Orang Aceh patut merasa malu dengan bangsa-bangsa lain yang terus menguasai berbagai tehnologi dalam berbagai bidang, sementara kita jalan saja tidak selesai.
Melihat sejenak ke arah kemiskinan di Aceh, ini terjadi seakan-akan sebagai sebuah proyek sosial yang tidak selesai-selesai, nampaknya jika sistim dan metode tidak diubah dari model sekarang maka yakinlah kemiskinan menjadi proyek berabad-abad.
Sebagai penutup saya ingin berbagi sebuah pengalaman pribadi yang sedang berlangsung saat ini. Sejak Januari 2010 saya bersama beberapa teman membina sebuah lembaga yang bergerak di bidang peternakan, pertanian, perikanan dan kehutanan ACDENMARK (ACDK). Untuk saat ini kalau saya tak salah sudah terbantu sekitar 20 orang untuk bisa bekerja. Sekalipun hingga hari ini ACDK baru bisa mengolola ratusan kambing, ratusan pohon jeruk nipis, ribuan pokok cabai, ratusan pepaya, terung, pinang, dan labu air, namun tidak berhenti di sini, kerja ini akan terus sehingga bisa tertampung seramai-ramainya orang Aceh untuk bisa memiliki aktifitas yang mendapatkan uang.
Tapi kami masih memiliki kewalahan besar karena jalan ke lokasi peternakan dan perkebunan yang bertempat di daerah Peudada, Bireun, masih seperti jalan di masa zaman serdadu, semoga saja pemerintah dan warga yang mampu bisa memetik manfaat dari tulisan ini, semoga.
Tarmizi Age
Koordinator World Achehnese Association di Denmark
