Mundurnya Naniek S. Deyang sebagai Kepala BGN semakin menunjukkan MBG adalah program acak-acakan. Kepala BGN sebelumnya (Dadan Hindayana) adalah tersangka korupsi, dan kini penggantinya menyatakan mundur melalui status Facebook. Menyerahkan duit negara Rp300 triliun lebih (anggaran MBG) dengan cara pengelolaan semacam ini adalah komedi yang memuakkan.
Saya membaca teks status pengunduran diri itu dan berbagai kecurigaan muncul di kepala. Medium penyampaiannya saja adalah akun pribadi Facebook dengan bahasa gaul (prens, ha ha), lengkap dengan emoticon, tanda baca yang berantakan, typo, dan sejenisnya — sama sekali tidak menunjukkan martabat dan kredibilitas sebagai bekas wartawan yang menjadi kepala lembaga negara yang memimpin suatu program prioritas nasional berbiaya ratusan triliun rupiah.
Baru 45 hari menjabat (6 minggu), mengumumkan mundur melalui Facebook, berselang kurang dari 24 jam dari konferensi pers "pengakuan" resmi BGN mengenai penyidikan korupsi oleh Kejagung yang berkaitan dengan mark-up harga proyek motor listrik MBG senilai total Rp1,03 triliun, memberikan kesan adanya kausalitas antara mundurnya Naniek dan penyidikan korupsi proyek tersebut. Mundur karena sakit jantung (yang boleh jadi benar dialami olehnya) mungkin, bagi Naniek yang juga Presiden Becak Listrik Indonesia itu, lebih enak didengar ketimbang mundur karena kasus korupsi.
Pejabat mundur agaknya bukan Prabowo banget. Hasan Nasbi pernah menyatakan mundur dari jabatan Kepala PCO pada April 2025, yang kemudian ditolak oleh Prabowo. Baru lima bulan kemudian (17 September 2025), ia diberhentikan sebagai Kepala PCO. Tujuh bulan kemudian (27 April 2026), ia dilantik lagi menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Bisa dibilang, "mundur" bukanlah kultur Prabowo, yang lebih condong "memberhentikan". Jadi, bagaimana bisa Naniek sepercaya diri itu mengumumkan mundur sekaligus menyatakan penggantinya kelak adalah "adik saya" yang bisa dia jewer kalau menyimpang? Betapa kacaunya tata kelola pemerintahan Prabowo ini jika ada pejabat yang bisa mundur sekaligus mengumumkan penggantinya sendiri.
Tak cuma itu, bahkan Naniek juga menyatakan Presiden akan membentuk Dewan Pengawas BGN (bedakan dengan Dewan Pengarah seperti diatur dalam Pasal 7 Perpres 83/2024 tentang BGN), di mana ia akan menjadi ketuanya. Tugas dan fungsinya, ia katakan, adalah untuk "mencereweti" — karena untuk itu ia masih bisa melakukannya, dibandingkan dengan pegang uang (mengelola anggaran, maksudnya), karena ia merasa trauma akut. Bagaimana bisa pemerintahan dikelola model begini: membentuk lembaga baru yang artinya menambah pemborosan APBN, sementara tugas dan fungsi lembaga itu disesuaikan dengan rasa trauma orang, dan bukan karena kebutuhan, kompetensi dan rekam jejak profesionalnya?
Pengunduran diri Naniek bukan cuma menampar buruknya manajemen pemerintahan Prabowo, tapi juga reputasi Indonesia secara umum. Seorang kepala lembaga negara yang memimpin program prioritas berbiaya ratusan triliun rupiah harus mundur (bukan cuti atau delegasi tugas saja) karena mau berobat di negara asing karena rekomendasi kawan, adalah aneh. Wajar kalau kita pertanyakan apa fungsinya tes kesehatan calon pejabat kalau bukan sekadar formalitas. Kalau seorang kepala BGN saja butuh second opinion atas rekomendasi teman, patut kita ragukan kualitas dokter dan fasilitas kesehatan di Indonesia. Lebih spesifik lagi, keputusan berobat ke negeri asing bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), karena Komisaris Pertaminanya sendiri masih perlu berobat ke luar negeri (sejak 12 Juni 2025, Naniek adalah Komisaris Pertamina).
Tapi, dari semua kecurigaan saya itu, saya pikir kata kunci sehingga Naniek seberani itu untuk mundur adalah klaim Naniek ini: 14 tahun ikut beliau (maksudnya Prabowo).
"Ikut beliau" adalah bocoran yang bisa kita dapat dari Naniek sebagai standar emas seleksi pejabat pemerintahan saat ini yang berbeda dengan standar global tentang pembangunan sistem pemerintahan yang baik.
"Ikut beliau" (ikut gaya bicaranya, ikut gaya berpakaiannya, ikut cara bercandanya, ikut pola makannya, ikut cara berpikirnya, ikut naik kudanya, dst) adalah definisi loyalitas yang sesungguhnya sebagai standar keterpilihan pejabat sekarang.
Selama masih "ikut beliau", Naniek mungkin berpikir, niscaya ia aman.
Salam,
AEK
