Saya tidak mau teriak-teriak seperti orang-orang yang diskusi perang AS/Israel vs Iran di salah satu TV. Tidak ada gunanya! Selama kita sepakat bahwa kekerasan dalam segala bentuk dan siapa pun pelakunya harus dikutuk, selesai 95% perkara.
Tak usah memuja berlebihan tokoh politik. Itu bikin Anda gelap mata. Pandangan berkabut, tak jernih melihat persoalan. Penyebab manusia berperang tidak tunggal. Tak selalu didorong nilai seperti keadilan, kemanusiaan, demokrasi.... Kebanyakan politisi yang menyebut nilai-nilai seperti itu adalah omong kosong.
Kita sampai lupa satu hal penting: kekuasaan dan uang di balik perang!
Saya amati pergerakan harga minyak dunia (BRN1) di ICE Futures—patokan harga minyak Brent global yang juga dilaporkan Bloomberg dan Reuters. Senin, 9 Maret 2026, harga tembus US$118 per barel (sekitar Rp1,89 juta), dipicu panik karena masa depan perang. Selasa, 10 Maret 2026, anjlok ke kisaran US$92–US$94 per barel (sekitar Rp1,47–Rp1,50 juta). Lumayan tajam turunnya: sekitar 22%.
Sesaat sebelum harga turun itu, ada cuitan di akun X Sekretaris Energi AS, Chris Wright (pukul 08.32 UTC), yang intinya kabar gembira bahwa pasokan minyak dipastikan lancar. Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz—jalur yang menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA) dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Kata kunci positif dalam cuitan itu: “Great news”, “successfully escorted”, “global energy stability”, “ensuring that oil remains flowing”.
Cuma 3–10 menit cuitan itu tayang lalu dihapus dan diklarifikasi:
“Postingan sebelumnya mengenai pengawalan angkatan laut di Selat Hormuz salah diberi keterangan oleh staf dan tidak mencerminkan status operasional saat ini. Kami menyesali kebingungan yang ditimbulkan.”
Manajer dana lindung nilai (hedge fund) Spencer Hakimian mencuit:
“Jadi siapa yang baru saja meraup untung US$100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) dengan melakukan short selling minyak selama 3 menit saat unggahan Chris Wright masih tayang?”
Short selling gampangnya bertaruh harga akan turun. Spekulan meminjam barang (kontrak) di harga tinggi (US$118 per barel atau sekitar Rp1,89 juta), lalu saat harga jatuh akibat cuitan Wright (ke US$90-an atau sekitar Rp1,44 juta), dia membeli kontrak itu dan mengembalikannya lalu mengantongi selisihnya sebagai profit.
Sebagai gambaran, kontrak Brent di ICE Futures bernilai 1.000 barel per kontrak.
Jika seorang spekulan melakukan short 1.000 kontrak dengan selisih penurunan (misal: US$18 atau sekitar Rp288 ribu per barel), maka untungnya mencapai sekitar:
US$18 × 1.000 barel × 1.000 kontrak
= US$18 juta (sekitar Rp288 miliar).
Bagaimana cuan dibentuk? Simpel: algoritma trading para hedge fund (bot) menangkap secara otomatis sinyal positif dari cuitan Wright berdasarkan kata kunci bermakna positif seperti: “Successfully escorted” (berhasil mengawal), “Oil tanker” (tanker minyak), dan “Strait of Hormuz” (Selat Hormuz). Algoritma secara otomatis menyimpulkan bahwa risiko blokade hilang.
Pada detik ke-0 sekian setelah cuitan itu muncul, bot melakukan short sell (misal: sebanyak 10.000 kontrak) pada harga US$118 per barel. Menit ke-3, harga jatuh ke US$90 karena kepanikan pasar, bot menutup posisi (buy to cover).
Profit:
(US$118 − US$90) × 1.000 barel × 10.000 kontrak
= US$280 juta (sekitar Rp4,48 triliun) hanya dalam 3 menit.
Logikanya jelas: cuitan keluar dari pejabat AS dan akun resminya, informasinya teknis (pengawalan militer), dan dihapus dengan cepat (memicu kepanikan pasar).
Saya pun curiga mantunya Donald Trump, Jared Kushner, bermain lewat Affinity Partners—firma investasi yang didirikannya pada 2021 yang fokusnya menjembatani bisnis AS (Barat) dan Israel. Data regulator AS (SEC filing) dan laporan Financial Times mencatat dana kelolaan hingga 2025 sebesar US$4,8 miliar (sekitar Rp76,8 triliun) dengan dominasi pendanaan dari negara-negara Arab (Arab Saudi melalui PIF sekitar US$2 miliar dan sisanya dari Qatar serta UEA).
Tapi saya pikir, Affinity bukan spesialis trading komoditas (taruhan cepat), melainkan private equity (gampangnya beli perusahaan jelek, diperbaiki, lalu dijual). Tapi karena afiliasinya sebagai keluarga Trump sekaligus penasihat pemerintahan, wajar kalau kita curiga kemungkinan ada peran dia di balik volatilitas harga minyak dunia.
Bukan cuma minyak, kita juga perlu curiga di balik kegilaannya terhadap perang, DNA Donald Trump adalah pedagang properti (seperti pernah ia akui sendiri), dan itu menurun ke Jared.
Di World Economic Forum (WEF) di Davos beberapa waktu lalu, Jared mempresentasikan New Gaza. Ia akan membangun Gaza sebagai kawasan elite yang dijuluki “Dubai di Mediterania” melalui proyek properti tepi laut (waterfront) dengan investasi mencapai US$25 miliar (sekitar Rp400 triliun).
Moral ceritanya: boleh saja kita nikmati orang-orang tarik urat sampai kesetanan membela junjungannya masing-masing, tapi lihat juga sisi lain—betapa di luar sana banyak orang seperti Trump, Kushner, dan para spekulan yang menganggap perang sebagai mainan cuan.
Menurut Anda, presiden Indonesia yang sekarang termasuk tipe yang mana?
Salam,
AEK
