Saya bukan pendukung Israel. Iman Katolik saya (yang juga mengakui Perjanjian Lama) tidak lantas berarti saya sepandangan teologis maupun politik dengan koalisi Benjamin Netanyahu yang ultranasionalis-religius itu.
Lagipula, di Israel terdapat berbagai pandangan politik. Oposisi terhadap Netanyahu pun tidaklah tunggal. Ada oposisi seperti Yair Lapid dan Benny Gantz yang berasal dari partai tengah dan kiri; kelompok B`Tselem atau Breaking the Silence yang berhaluan hak asasi manusia; hingga kelompok ultra-ortodoks (Haredi) yang terkenal anti-wajib militer.
Bahkan, ada satu kelompok minoritas yang disebut Neturei Karta (dari bahasa Aram, artinya Penjaga Kota) yang menentang negara Israel modern karena alasan teologis spesifik: bahwa pembentukan negara Israel sebelum kedatangan Mesias sama dengan pemberontakan melawan Tuhan. Kelompok ini pulalah yang kerap berdemo membawa bendera Palestina.
Di antara para pencetus Zionis (berasal dari kata Sion, sebuah bukit di Yerusalem yang dikenal sebagai Kota Daud, referensi pertama dalam Kitab 2 Samuel 5:7) pun berbeda pandangan. Wartawan Austria, Nathan Birnbaum (1864–1937), yang menciptakan istilah Zionis pun pada akhirnya mendirikan Agudas Yisrael, organisasi Yahudi ortodoks yang paling anti-Zionis. Ia berseberangan dengan Theodor Herzl, wartawan Austria-Hungaria yang terkenal karena liputan kasus Dreyfus.
Soal tanah pusaka Israel pun terbelah. Ada kelompok yang berpegang pada Kitab Yosua (11:23) yang menganggap seluruh wilayah (Yudea dan Samaria/Tepi Barat) adalah milik pusaka yang diberikan Tuhan secara eksklusif kepada bangsa Israel. Ada pula kelompok yang berpegang pada Kitab Yehezkiel (47:22) yang memerintahkan agar orang asing mendapatkan bagian pusaka yang sama; sebab seperti dalam Kitab Amos 5:24, "biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air..." (kelompok ini yang mendorong solusi dua negara, menentang penggusuran paksa, dan memperjuangkan hak pribadi warga Palestina).
Sebelum Israel/AS menyerang Iran, sebagai orang media, saya mencermati narasi "perang suci" Netanyahu yang pidato lengkapnya dimuat oleh The Times of Israel (28/2/2026). Dia bilang dua hari lagi (2 Maret 2026) akan dirayakan Hari Raya Purim, sementara operasi militernya dinamakan Operasi Singa Mengaum (Operation Roaring Lion)---mengutip Amos 3:8 yang berbunyi: Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?
Purim berasal dari kata Ibrani pur yang artinya undi. Pada 2.500 tahun lalu, seorang pejabat Persia bernama Haman di zaman Raja Ahasyweros mengundi hari "baik" untuk membantai semua orang Yahudi. Tapi, diceritakan dalam Kitab Ester, ada orang Yahudi dari suku Benyamin bernama Mordekhai dan anak asuhnya, Ester, yang membalikkan keadaan hingga akhirnya raja memerintahkan Haman digantung.
Saya juga membaca The Jerusalem Post (media sayap kanan Israel) menulis editorial (1/3/2026) yang menaikkan sentimen Purim dan Shabbat Zachor (sabat yang hanya terjadi sekali dalam setahun yang memerintahkan orang Yahudi untuk mematuhi Taurat).
Untuk lebih membakar semangat, JP mengutip Kitab Ulangan (25:17-19): "Ingat apa yang orang Amalek lakukan kepada kalian... Janganlah lupa!" Amalek adalah musuh bebuyutan orang Israel sejak zaman keluar dari Mesir. Haman dalam cerita Ester tadi adalah orang Agag (keturunan Amalek).
Pendeknya, Khamenei dianggap sebagai Haman modern yang menjustifikasi segala tindakan Netanyahu menyerang Iran. Cerita selanjutnya kita tahu: rudal pertama ke Iran meluncur di hari Sabat. Khamenei tewas sehari sebelum Purim.
Tentu, dalam melihat konflik ini, kita tidak bisa mengabaikan trauma mendalam yang dialami masyarakat Israel akibat serangan 7 Oktober 2023. Dinamika keamanan di Timur Tengah memang sangat kompleks dan penggunaan narasi agama untuk menjustifikasi kekerasan kerap terjadi di antara kedua kubu.
Masalahnya: di mana posisi Indonesia sebagai negara netral dan bebas-aktif yang seharusnya lantang menentang segala tindakan agresif dan berdiri di atas prinsip moral-kemanusiaan untuk menyuarakan perdamaian dunia, apa pun agama dan keyakinan orang tersebut?
Lalu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto ucuk-ucuk tampil menawarkan diri sebagai juru runding dan siap terbang ke Iran. Sebelumnya, Indonesia bangga betul masuk Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump dan mau membayar iuran Rp16 triliun.
Itu artinya secara implisit Indonesia sudah memihak koalisi Netanyahu yang ultranasionalis-religius itu, karena Netanyahu menyebut Trump: "is not only Israel’s greatest friend ever to sit in the White House; he is also a determined leader of the free world."
Di hadapan AS/Israel, diplomasi Indonesia teramat tidak jelas. Sudah kalah sejak dalam pikiran. Tak ada narasi kokoh yang dibangun sebagai bangsa yang punya harga diri dan bermartabat; bangsa yang punya sikap konsisten terhadap amanat Konstitusi. Indonesia seolah hanya pengekor kemauan Trump dan sekutunya.
Mungkin kita tak layak bermimpi terlalu tinggi. Apa yang bisa diharapkan dari suatu negara yang para pejabatnya sibuk rebutan titik MBG dan mengambil komisi dari impor mobil pikap India?
Apa mungkin berani untuk tegas keluar dari BoP dan mulai menjadi yang paling kencang menentang penjajahan serta melawan ketidakadilan yang terjadi di mana pun di belahan dunia ini—tak cuma Palestina—siapa pun penjajahnya?
Jangan cuma beraninya teriak antek-antek asing di dalam negeri.
Salam,
AEK
