Dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun Partai Golkar—entah yang keberapa—pada Jumat (5/12/2025), saya membaca berita tentang Presiden Prabowo yang bicara soal orang pintar.
Ada dua jenis orang pintar yang saya tangkap dari pidato Presiden.
Orang pintar pertama adalah mereka yang mengkritisi pemerintah dan mencari kesalahan terus-menerus, padahal menurut Presiden, mereka tidak bisa melakukan pekerjaan untuk rakyat seperti membangun jembatan, menciptakan lapangan kerja, atau menjamin ketersediaan beras dan BBM.
Tidak disebutkan siapa sosok orang pintar pertama ini. Berbeda dengan orang pintar kedua, yang justru disebutkan langsung contoh konkretnya: Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Ia bahkan disebut bukan hanya pintar atau cerdas, tetapi SANGAT cerdas.
Ada selipan kalimat stereotip tentang orang Indonesia Timur yang dilontarkan Prabowo ketika memuji Bahlil. Misalnya: orang Timur suka berkelahi tetapi cepat menurunkan emosi; makan banyak sehingga istrinya pasti kerepotan; keras hati tapi setia; dan memiliki sikap negarawan meski suka berpesta.
Entah apa relevansinya menyampaikan stereotip semacam itu dalam pidato pujian. Yang jelas, baru setelah bagian itu muncul dagingnya, yaitu alasan mengapa Bahlil dianggap sangat pintar. Saya awalnya sempat menduga akan ada capaian besar dari seorang Bahlil, misalnya riset ilmiah soal menambang batubara dengan tenaga dalam atau formulasi doa untuk menentukan titik sumur eksplorasi minyak.
Ternyata bukan itu. Menurut Prabowo, kepintaran Bahlil adalah karena ia pandai menyentuh hati Presiden. Dalam acara tersebut ditampilkan video saat Prabowo masih berjaket kuning Golkar, lalu ditampilkan pula foto almarhum ayahnya. “Tambah jatuh hati, kau pintar sekali,” kata Prabowo, dikutip Kompas.com (5/12/2025).
Dalam bahasa awam, biasa kita sebut: pandai menjilat.
Salam,
AEK
