Boom! Siapa sangka vokalis band Letto, Noe, kini jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional! Padahal dulu dikenal nyanyi cinta dan galau… bukan nyusun strategi pertahanan negara!
Menurut Kemenhan, Noe dilantik berdasarkan “kompetensi dan rekam jejak keahlian” untuk memperkuat kebijakan pertahanan. Tapi publik sibuk nanya: apa kompetensinya nyusun G-Force Country Defense 101?
Netizen garuk-garuk kepala, ada yang ngetwit sindir: “Kalau ahli pertahanan, kenapa track recordnya lebih ke musik dan diskusi Maiyah?” alias banyak komentar skeptis soal relevansi latar belakangnya.
Lebih panas lagi, beberapa unggahan viral tunjukkan pernyataan Noe yang kontra-mainstream — bahkan pernah menyebut pemerintah “pengkhianat Pancasila” di media sosial sebelum diangkat jadi ahli. Kritikus bertanya: serius bikin kebijakan atau bikin soundtrack emosional publik?
Publik kontra juga bangun narasi: ini sekadar talent show jabatan tanpa parameter jelas, atau malah proyek hubungan masyarakat pemerintah? “Ahli pertahanan berarti paham geostrategi, bukan lagu galau versi panjang!” begitu cercaan warganet di berbagai kolom komentar.
Jadi pertanyaannya tinggal satu: kalau syarat jadi Tenaga Ahli Pertahanan cuma “punya gelar, punya nama besar, dan punya ayah terkenal”, lalu di mana tempatnya para akademisi pertahanan, analis geopolitik, dan perwira strategi yang puluhan tahun berdarah-darah belajar soal perang dan keamanan negara?
