Purbaya Bongkar 10 Raja Sawit: Modus Under-Invoicing, Harga Palsu, Negara Dikerjain

Di negeri kaya sawit tapi miskin penerimaan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka kartu. Sepuluh perusahaan sawit besar diduga main sulap angka ekspor. Bukan pesulap, tapi polesan akuntan.

Modusnya klasik tapi mematikan under-invoicing. Harga CPO di pasar dunia bisa seribu dolar, tapi di dokumen ekspor disunat setengahnya. Negara dapat receh, perusahaan panen cuan.

Triknya rapi. Barang sama, kapal sama, tujuan sama. Yang beda cuma angka di kertas. Pajak turun, bea keluar menyusut, kerugian negara membengkak sampai triliunan rupiah.

Lebih licik lagi, CPO dikamuflasekan jadi produk turunan murahan. Di atas kertas: fatty acid. Di pasar global: emas cair bernama sawit.

Purbaya menyebut praktik ini bukan insiden, tapi pola. Ratusan eksportir pernah terdeteksi, dan sepuluh nama kini dikantongi negara. Bukan untuk dipajang, tapi disiapkan ditindak.

Ironisnya, sawit selalu dielu-elukan sebagai penyelamat ekonomi. Tapi di balik slogan, negara justru dikerjai dari dalam. Pajak bocor, pengawasan tertidur.

Kini pemerintah menjanjikan AI, pengawasan digital, dan pengetatan. Pertanyaannya satu: baru sekarang sadar, atau baru sekarang berani?