Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia, klaim yang katanya sampai “membingungkan bangsa lain”.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo di forum resmi, dengan narasi rakyat Indonesia tetap bahagia meski hidup pas-pasan, harga naik, dan gaji stagnan.
Masalahnya, data global berkata lain. World Happiness Report menempatkan Finlandia di peringkat teratas, sementara Indonesia berada di kisaran peringkat 80-an, jauh dari podium kebahagiaan dunia.
Badan Pusat Statistik sendiri mencatat tingkat pengangguran terbuka di atas 5 persen, kemiskinan masih di kisaran 9 persen, dan daya beli kelas menengah terus tergerus.
Netizen pun bereaksi sinis: “Bahagia versi siapa?”, “Kalau bahagia karena pasrah, itu beda cerita”, hingga “Survei bahagia tapi cicilan tetap jalan”.
Pengamat sosial menilai kebahagiaan tak bisa cuma dijadikan slogan politik. Tanpa data transparan dan metodologi jelas, klaim negara paling bahagia terdengar lebih mirip hiburan, bukan kebijakan.
