Selamat datang di negara teror. Negara di mana kritik dibalas bangkai ayam. Bukan cerita horor murahan. Ini Indonesia, 2025. Aktivis dan kreator konten diteror setelah bicara soal bencana Sumatera.
Nama pertama: Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. Rumahnya dikirimi bangkai ayam pesannya jelas: diam, atau siap diganggu. Lalu Sherly Annavita. Usai mengkritik penanganan bencana, mobil dicoret, telur busuk mendarat.
Bukan dialog, tapi intimidasi. Bersambung ke DJ Donny dan Virdian Aurellio. Pola berulang, teror berantai, targetnya sama: mereka yang bersuara.
Greenpeace menyebut ini ancaman terhadap masyarakat sipil. Bukan kriminal biasa, tapi pesan politik bergaya preman. Saat kritik dianggap musuh, dan bangkai ayam jadi alat komunikasi, pertanyaannya satu: ini negara hukum atau negara teror?
