Banjir bandang di Sumatera datang. Air naik, lumpur dan gelondongan kayu bersama banjir menelan segalanya. Rumah hancur, sawah gagal panen, jalan terputus, ribuan warga hidup di pengungsian.
Namun hingga hari ini, negara masih sibuk dengan satu kata: menimbang, ragu. Di saat pemerintah pusat berhitung soal anggaran dan citra, Asosiasi Influencer Indonesia justru lebih dulu membaca situasi darurat.
Ketua Pusat Bantuan Hukum Asosiasi Influencer Indonesia, Ahmad Irwandi Lubis, menegaskan: skala bencana ini telah melampaui kemampuan pemerintah daerah. Lahan pertanian rusak, irigasi lumpuh, ekonomi warga berhenti total.
Tanpa status Bencana Nasional, bantuan terhambat, koordinasi lintas kementerian berjalan setengah hati. Penetapan Bencana Nasional memang mahal. Tapi membiarkan warga bertahan sendiri, biayanya jauh lebih kejam.
Ketika influencer harus mengingatkan negara soal kemanusiaan, pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang sedang lalai menjalankan fungsi negara?
