Bencana besar memutus jalan, menenggelamkan desa, dan meninggalkan ribuan warga terisolir. Di tengah situasi darurat itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution memilih langkah cepat: menjatuhkan bantuan dari helikopter.
Pemerintah menyebutnya cara paling realistis. Akses darat hancur, evakuasi tak bisa masuk, helikopter jadi satu-satunya pintu. Tapi video bantuan yang pecah berantakan viral karung sobek, beras berserakan, warga mengais butiran di lumpur.
Sejumlah tokoh langsung mengkritik. Puan Maharani meminta evaluasi: dropping bantuan tak boleh sembrono. Dari DPR, Firman Soebagyo menilai cara itu tak pantas dan tak manusiawi—lebih mirip atraksi pencitraan ketimbang penyelamatan.
Bobby membela diri: daerah itu benar-benar tak bisa ditembus. Ini keputusan darurat, bukan pilihan ideal. BNPB dan pemerintah pusat juga buka suara: dropping udara sah, tapi wajib prosedur ketat pakai sling rope, bukan ‘lempar karung’.
Para pengamat menambahkan: kecepatan tak boleh mengorbankan martabat korban. Bantuan harus sampai, bukan pecah di tanah. Pada akhirnya, tragedi ini mengingatkan: kemanusiaan butuh presisi bukan sekadar aksi cepat dari langit.
