Banjir dan longsor di Sumatra; air naik, rumah hanyut, rakyat meradang, korban terbaring. Saat solidaritas jalan lewat sumbangan relawan Rp 10 miliar, bayangkan jawaban dari wakil rakyat.
Endipat Wijaya, dari Partai Gerindra, berdiri di podium DPR — bukan untuk prihatin, tapi untuk menyindir. Dia bilang: Donasi Rp 10 miliar itu viral, padahal negara sudah gelontorkan triliunan!
Relawan turun tangan nyelamatkan korban di titik terisolasi, distribusikan logistik, air bersih, makan bergizi. Tapi bagi Endipat, itu dianggap ‘pangling kerja keras negara kurang tersosialisasi’ — seakan empati relawan itu salah arah.
Logika seperti ini — ketika negara ‘mengaburkan’ fakta, dan kritik relawan dianggap gangguan — ini bukan solidaritas, ini propaganda. Ini bukan membela rakyat, tapi membela narasi.
Kalau wakil rakyat sudah sedemikian buta empati, asyik rebutan angka dan reputasi, sementara korban banjir masih meratap… maka ingat: jangan pilih yang model begini. Pemilu bukan ajang popularitas, tapi tanggung jawab. Rp 10 miliar bisa mensupport langsung korban tapi Rp triliunan tak terlihat hasilnya. Mana yang kita butuhkan sekarang? Solidaritas nyata, bukan narasi indah.
