Di tengah banjir yang merendam Sumut, Aceh, dan Sumbar—akses komunikasi putus total. Starlink datang sebagai penyelamat. Tapi publik langsung dibuat geleng kepala: TNI AD menyebut… “pulsanya belum tahu siapa yang bayar.”
Padahal Starlink jelas nggak pakai pulsa. Dunia maya langsung meledak. “Ini internet satelit, bukan warnet token,” sindir netizen. Situasi makin keruh ketika beredar kabar warga diminta bayar agar bisa pakai internet darurat. Publik panas, korban banjir makin bingung.
TNI AD buru-buru klarifikasi: layanan Starlink, katanya, sudah digratiskan sampai akhir Desember. Tapi blunder keburu menyebar ke mana-mana. Dari isu pulsa, pungutan, sampai miskomunikasi—drama ini justru menyoroti betapa amburadulnya koordinasi penanganan bencana.
Di saat korban butuh kejelasan dan bantuan, yang datang justru debat soal “pulsa” layanan satelit. Banjir boleh tak terhindarkan—tapi blunder komunikasi? Itu sepenuhnya buatan manusia.
