Inilah drama alam paling absurd tahun ini: “Bobby vs Banjir Sumut: Hujan Disalahkan, Hutan Menangis!” — episode terbaru dari serial panjang bencana ekologis.
Ketika banjir dan longsor menggulung Sumut dari Sibolga sampai Tapanuli, Bobby Nasution buru-buru menunjuk tersangka: cuaca ekstrem. Ya, hujan lagi… hujan lagi yang disalahkan.
Tapi WALHI langsung memotong: “Maaf Pak Bobby… bukan hujan yang ekstrem — kerusakan hutannya yang ekstrem.” Dalam satu dekade, sekitar 2.000 hektare hutan hilang. Bukan karena dimakan rayap, tapi dimakan konsesi dan excavator. Hutan ditebang, gunung dicukur, air pun balas dendam.
Jadi kalau Bobby menyebut bencana ini murni karena cuaca, ibarat rumah bocor tapi yang disalahkan awan, bukan atap yang bolong.
WALHI dan aktivis lingkungan geram: Kalau izin-izin alih fungsi lahan tak dirapikan, mau hujan atau tidak, Sumut tetap siap ‘banjir musiman’ sepanjang tahun.
Ribuan rumah terdampak, korban jiwa berjatuhan, akses terputus — tapi diskusinya malah mandek di kalimat klasik: “Ini karena hujan besar.” Seolah deforestasi cuma mitos ala film fantasi.
Padahal banjir ini bukan bencana alam biasa. Ini bencana kebijakan, bencana yang lahir dari hutan yang dikorbankan pelan-pelan. Dan hujan? Dia cuma jadi kambing hitam paling setia di republik ini.
