Indonesia darurat tanah! Dan Nusron Wahid muncul sebagai juru bicara kiamat kecil sektor pertanahan. Dengan lantang ia bilang: “Mau kiamat tinggal dua hari pun, mafia tanah tak akan bisa dihabisi!” Kalimat yang cocok jadi slogan drama kolosal Nusantara.
Tapi mari buka buku laporan: sepanjang 2024, 5.973 kasus tanah masuk ke BPN. Yang beres? Baru 2.161. Sisanya? Menggantung seperti jemuran pas musim hujan.
Di 2025, BPN bangga klaim “99 persen kasus selesai” — tapi itu dari target internal 2.002 perkara. Ibarat bilang rumah beres, tapi yang dibersihin cuma ruang tamu. Sementara fakta di lapangan: 295 konflik agraria meledak, 67 ribu keluarga terdampak, ratusan warga dikriminalisasi. Negaranya ada, tapi rakyatnya tetap berantakan.
Modus mafia tanah? Sertifikat ganda, lahan tumpang tindih, aparat desa ikut main, bahkan pejabat lokal jadi sponsor. Sistemnya bocor seperti ember berlubang. Jadi ketika Nusron bicara “kiamat dua hari”, publik justru heran: Yang duluan kiamat itu mafia tanah… atau kesabaran rakyat?
