Selamat datang di Benhil, Jakarta Pusat… tempat di mana pagi hari bukan hanya berisi kopi, tapi juga horor eksibisionis! Seorang perempuan jogging santai, tiba-tiba dikejar bapak-bapak bermotor yang—yap—pamer burung sambil teriak-teriak. Jakarta memang tidak pernah kehabisan episode.
Korban panik, berhenti lari, bahkan sempat takut keluar kos. Dan ketika melapor ke polisi? Jawabannya klasik: ‘Ada bukti visual?’ Seolah-olah pelecehan cuma sah kalau direkam pakai kamera 4K.
Lalu siapa yang bergerak cepat? Bukan polisi, saudara-saudara… tapi DAMKAR! Petugas pemadam—yang biasanya ngejar api—hari itu ngejar eksibisionis. Motor dikejar, pelaku diberhentikan, ditegur keras. Damkar: 1. Polisi: 0.”
Pelaku cuma ngakak dan minta maaf cengar-cengir. Sementara korban tetap syok. Di titik ini, semua yang bilang pelayanan publik ‘udah bagus’ pasti ikut terdiam.”
Padahal Mahfud MD pernah bilang: ‘Polisi itu baik, masyarakat merasa aman dan nyaman.’ Tapi pagi di Benhil menunjukkan sebaliknya: aman—kalau yang datang Damkar. Nyaman—kalau eksibisionisnya tidak lewat.
Jadi, pertanyaannya: kapan polisi kembali jadi polisi? Atau perlu kita jadwalkan Damkar ikut patroli sekalian?
