Menteri Ara vs SLIK OJK: Drama KPR Subsidi yang Katanya Menghancurkan Mimpi Rakyat Kecil

Menteri Perumahan dan Pemukiman Indonesia Maruarar “Ara” Sirait masuk dengan gaya superhero: menuding Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK) sebagai biang kerok hancurnya mimpi rakyat kecil punya rumah. Katanya, ribuan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) gagal Kredit Perumahan Rakyat (KPR) gara-gara satu baris catatan di SLIK.

Ara klaim ada 110 ribu rakyat yang tersangkut SLIK. Tapi Menkeu Purbaya langsung bantah: “Data itu meleset. Bukan 110 ribu… tapi sekitar 100 orang saja.” Bedanya tipis… cuma 109.900 orang. Santai. Namun laporan Kompas menyebut: 70 persen calon kreditur KPR subsidi memang betulan tersangkut SLIK, dari tunggakan 50 ribu sampai lupa bayar cicilan motor zaman kuliah.

Di satu sisi, OJK bilang masalah SLIK “hanya sedikit”. Sedikit versi siapa? Versi Excel atau versi rakyat yang ditolak bank tiga kali berturut-turut? Ara pun makin panas: SLIK dianggap tembok raksasa yang bikin MBR cuma bisa menatap rumah contoh sambil menelan air liur. Solusinya? Hapus saja SLIK! Biar semua orang bisa ambil KPR tanpa dosa masa lalu menghantui.

Tapi para ekonom bilang: hati-hati, tanpa SLIK, bank bisa buta risiko. Kredit bisa jebol, efek domino bisa berantai. Satirnya: negara bisa cepat punya banyak rumah… tapi isinya tagihan macet. Jadi, netizen: Setuju gak kalau SLIK OJK dihapus total seperti permintaan Ara? Atau ini cuma jurus populis yang manis di telinga, tapi pahit buat keuangan negara?