Wakil Ketua DPR Fraksi PKB, Cucun Ahmad Syamsurijal dan Ide Ajaibnya: Ahli Gizi Bisa Diganti Anak SMA?
Di sebuah negeri yang katanya menuju “generasi emas”, muncul satu suara dari DPR… yang terdengar melecehkan profesi para ahli gizi.
Wakil Ketua DPR dari PKB, Cucun Ahmad Syamsurijal, dengan santai menyebut ahli gizi tidak penting untuk program Makan Bergizi Gratis. “Lulusan SMA? Latih tiga bulan, jadi,” katanya.
Padahal di lapangan, program MBG sudah mencatat 6.452 siswa keracunan. Dapur banyak yang tak punya sertifikat higienis, menurut BPOM dan laporan Reuters. Tapi di mata Cucun, semua bisa diakali dengan “kursus kilat”.
Faktanya? Satu ahli gizi harus mengawasi 3.000–4.000 porsi makanan per hari. Mereka memastikan komposisi gizi, keamanan makanan, risiko kontaminasi, sampai potensi alergi siswa.
Ahli gizi juga yang merancang menu untuk menekan stunting dan anemia — penyakit yang biaya penanggulangannya bisa membengkak hingga triliunan rupiah bagi negara.
Tapi logika ala Cucun membuat profesi serius ini terdengar seperti pekerjaan sampingan: kayak “tukang cicip menu” yang bisa dipelajari sambil rebahan.
Kalau ahli gizi saja dianggap tidak penting, mungkin yang lebih tak penting adalah pejabat yang tak memahami apa pun soal gizi tapi pede bicara seolah ahli. Rakyat bayar pajak, bukan untuk dengar teori ngawur dari kursi DPR.
