TransJ Naik Rp5.000: Dompet Menjerit, Subsidi Disayat, Janji Layanan Melambung!

Di Jakarta, kota di mana macet adalah meditasi paksa, muncul kabar baru: tarif TransJakarta berpotensi naik jadi Rp5.000. Betul—Rp3.500 yang bikin dompet adem selama dua dekade, siap digeser naik!

Alasannya? Subsidi jebol. Hitung-hitungan resminya: biaya asli per penumpang bisa tembus Rp13 ribu, tapi warga cuma bayar Rp3.500. Sisanya, sekitar Rp9.700 per kepala, disubsidi Pemprov tiap hari. Lucunya, Stafsus Gubernur bilang: ‘Ini bukan naik tarif, ini pengurangan subsidi’. Padahal tetap… ya warga yang bayar lebih.

Komisi B DPRD: ‘Rp5.000 masih wajar’. NasDem: ‘setuju asal layanan naik’. Realitanya? Warga mulai hitung ulang ongkos hidup—PP kerja bisa naik dari Rp7.000 jadi Rp10.000 sehari.

Sementara subsidi TransJ sendiri disebut tembus Rp4,2 triliun per tahun. DPRD juga wanti-wanti: kalau pun naik, jangan lebih dari Rp2.000 biar rakyat tidak berubah jadi kalkulator berjalan.

Publik cuma minta satu hal sederhana: kalau bayar lebih, bus jangan makin bau, halte jangan makin sesak, headway jangan makin absurd. Gampang kan…? Atau justru itu yang susah? Pada akhirnya, wacana ini belum final. Tapi sebelum diketok… yuk kita tanya:

Netizen, kalian tim SETUJU tarif TransJ naik demi layanan—atau TIM TIDAK SETUJU karena dompet kalian sudah cukup menderita?