Toba Memanggil, Luhut Tak Menjawab: Di Balik Pulp, Kuasa, dan Luka Alam Batak

Ribuan warga mengepung kantor Gubernur Sumatera Utara. Teriakannya satu: “Tutup PT Toba Pulp Lestari!”. Perusahaan pulp yang katanya lestari, tapi meninggalkan jejak sakit hati di tanah adat dan hutan yang makin menipis.

Di balik semua itu, bayang-bayang satu nama selalu muncul: Luhut Binsar Pandjaitan , sosok yang punya jejak panjang dalam bisnis pulp dan kertas. Hutan boleh gundul, tapi jaringan kekuasaan tetap rimbun.

Faktanya, Kementerian Kehutanan sudah turun tangan. 167 ribu hektare konsesi TPL dievaluasi. Tapi dari semua itu, cuma 46 ribu hektare yang benar-benar digarap. Sisanya? Kawasan abu-abu — separuh izin, separuh konflik.

Rakyat berteriak soal tanah adat dan air Danau Toba yang tercemar, sementara elit berdebat soal “izin dan investasi. Ironinya, bisnis lama masih lestari, tapi keadilan di Tanah Batak tetap punah. Danau Toba pun menangis— bukan karena hujan, tapi karena serakah yang tak pernah padam.