Ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara belum reda, tapi jari telunjuk pejabat sudah cepat mencari kambing hitam. Dan seperti biasa, yang disalahkan bukan bahan peledak… tapi game online.
Menkomdigi Meutya Hafid buka suara. Katanya, pemerintah bakal kaji pembatasan PUBG karena dianggap menampilkan kekerasan, darah, hingga senjata yang realistis—padahal rating gamenya jelas: usia 18 tahun ke atas.
Tapi tunggu dulu. Dari laporan kepolisian, pelaku ledakan di sekolah itu merakit petasan sendiri, bukan karena “terinspirasi PUBG.” Dan pakar dari Universitas Muhammadiyah Surabaya bilang, menyalahkan game itu cuma reaksi emosional tanpa bukti ilmiah.
Faktanya, penelitian WHO dan Harvard tahun 2023 menyebut: tidak ada korelasi langsung antara main game kekerasan dan tindakan kriminal. Yang lebih berpengaruh justru stres, tekanan sosial, dan minimnya literasi digital.
Jadi, sebelum PUBG dijadikan kambing hitam nasional, mungkin kita perlu tanya: siapa yang sebenarnya gagal mendidik anak memahami batas antara game dan realitas?
Karena, yang meledak bukan cuma petasan—tapi logika pejabat kita sendiri.
