Menteri Keuangan Purbaya tampak turun dari singgasana fiskal membawa tujuh sabda sakti: dari menjaga stabilitas fiskal, menebar senyum di kantor pajak, sampai meyakini demo rakyat bisa sembuh dengan pertumbuhan ekonomi tujuh persen. Katanya, kalau ekonomi naik, rakyat lupa marah — seolah perut kenyang bisa menghapus semua dosa struktural.
Dalam pidato yang terdengar seperti seminar motivasi, Purbaya menyerukan birokrat agar bukan cuma jago hitung angka, tapi juga jago pura-pura ramah. “Senyum sebelum setor pajak,” begitu kira-kira pesannya — seperti pelatihan customer service di neraka fiskal.
Namun yang paling viral tentu sabdanya yang menyamakan demo dengan lapar mata ekonomi: “Kalau sudah tumbuh 7%, mereka bakal sibuk kerja dan makan enak!” Sebuah kalimat yang mungkin bisa dicetak di bungkus nasi padang subsidi APBN.
Akhirnya publik pun sadar: mungkin Purbaya bukan sekadar menteri keuangan, tapi motivator nasional — yang percaya kalau uang negara dikelola dengan niat tulus, rakyat bisa kenyang, bahagia, dan lupa bertanya, “Kapan janji perubahan itu datang?”
