Bayangkan—di balik gemerlap sirkuit Mandalika yang digadang jadi ikon pariwisata dunia, ternyata berdiri tambang emas ilegal yang menghasilkan tiga kilogram emas per hari! Dekat banget—cuma sejam dari arena balap internasional.
KPK turun tangan. Tapi lembaga antirasuah itu tak mau bergerak sendiri, karena tambang ini bukan sekadar urusan cangkul dan pasir, tapi ada jejak izin, pejabat, dan cuan besar yang saling silang.
Masuklah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dengan nada keras: “Kalau nggak ada izinnya, proses hukum saja. Saya nggak mau main-main urus negara ini!” Keras di kata, tapi akankah keras juga di aksi?
Karena faktanya, tambang ini sudah lama beroperasi, pakai alat berat, pekerja banyak, bahkan katanya ada backing kuat di balik layar. Jadi siapa yang selama ini menutup mata?
KPK bilang, masalahnya bukan cuma soal tambang. Tapi juga kehutanan, pajak, sampai kerusakan lingkungan yang dibiarkan menganga di tengah proyek pariwisata prestisius.
Pertanyaannya: kalau tambang ilegal bisa hidup damai di samping Mandalika yang dijaga ketat, sebenarnya siapa yang sedang bermain di tanah emas itu—rakyat kecil, atau elite yang pura-pura tidak tahu?
