Rp200 Triliun "Tabungan Negara": Revolusi Kredit atau Ilusi Finansial?

Pemerintah lewat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah menaruh duit rakyat Rp200 triliun di bank-bank Himbara. Katanya, biar ekonomi menggeliat, kredit melonjak, rakyat tersenyum.

Tapi faktanya? Kredit cuma naik tipis—dari 7,56 jadi 7,7 persen. Uang triliunan itu... masih rebahan manis di rekening perbankan, mungkin sambil menikmati bunga deposito.

Menteri Purbaya pun akhirnya jujur, “Mungkin September belum full impact dari uang itu.” Hmm… jadi Rp200 triliun ini investasi ekonomi, atau sekadar simulasi keuangan yang tampak megah di layar laporan?

Sementara itu, UMKM masih susah cari pinjaman, bunga tetap tinggi, dan bank justru nyaman dengan dana parkir negara. Mesin ekonomi, atau mesin pendingin uang?

Purbaya optimis kredit bisa tembus dua digit. Tapi dua digit bagi siapa? Rakyat kecil yang butuh modal, atau laba para konglomerat perbankan yang makin gemuk?

Pertanyaannya: kalau Rp200 triliun aja bisa diam seribu bahasa di bank, siapa yang sebenarnya ditolong—ekonomi rakyat, atau ekonomi para penguasa uang?