Menkeu Purbaya Digugat Rp 1: Ketika Buruh Leces Bayar Mahal Demi Keadilan Murahan

Tiga belas tahun menunggu, ribuan eks karyawan PT Kertas Leces—BUMN tertua yang kini tinggal nama—akhirnya menggugat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Tapi bukan minta triliunan… mereka cuma minta Rp 1 per orang. Satu rupiah, harga yang lebih murah dari segelas kopi, tapi lebih berharga dari janji negara yang tak kunjung ditepati.

Karena yang mereka kejar bukan uang, tapi pengakuan bahwa negara ini masih punya hati—bukan cuma neraca. Dari aset Rp 700 miliar sampai hak buruh Rp 145 miliar, semua diam di meja birokrasi. Yang bergerak cuma kalender dan usia para pensiunan yang makin renta, sementara keputusan cuma mondar-mandir di rak pejabat. Katanya negara ini adil dan makmur. Tapi di Leces, yang makmur cuma debu di pabrik, dan yang adil cuma tulisan di draf kementerian.

Purbaya bilang masih diproses— ya, prosesnya mungkin secepat printer kehabisan tinta. Satu rupiah mereka minta, bukan untuk hidup, tapi untuk menegur: Kalau negara bisa menghitung miliar demi proyek, kenapa menghitung hak buruh saja pakai kalkulator yang kehabisan baterai? Jadi, Pak Menkeu, sebelum rakyat makin sinis, tolong jawab satu hal sederhana: berapa lama lagi keadilan harus diutang dengan bunga kesabaran?