Baper Pakai Nangis! Majelis Hakim Korupsi Minyak Goreng Harus Diganti

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terdengar suara yang bukan palu... tapi isak tangis. Ketua majelis hakim Effendi—menangis. Bukan karena putusan, tapi karena yang diadili... teman sendiri.

Katanya, ini sidang paling berat selama jadi hakim. Ya wajar, siapa yang nggak berat kalau yang duduk di kursi terdakwa itu kawan seperjuangan di diklat Cinere, 1999?Tapi publik cuma bisa garuk-garuk kepala—kok yang berat malah perasaannya, bukan hukumnya? Soalnya, perkara ini bukan urusan kecil. Suap lepas perkara minyak goreng, nilainya Rp 40 miliar. Empat puluh em!

Uang yang konon dibagi rata antara para penjaga keadilan yang lupa menjaga dirinya sendiri. Dan di tengah tangis haru sang hakim, rakyat mungkin bertanya: Seberapa mahal harga air mata di pengadilan? Apakah Rp 40 miliar cukup buat menghapus rasa bersalah… atau cuma buat menghapus minyak goreng dari vonis bersalah?

Lalu kita pun merenung bersama Effendi, yang katanya menanggung beban berat. Tapi kalau hukum sudah jadi drama persahabatan—pertanyaannya sederhana: yang sebenarnya harus kita tangisi itu hakimnya… atau nasib keadilan di negeri ini? Rasanya majelis hakim baperan perlu diganti agar putusan yang dihasilkan tidak kita tangisi. Gimana menurut Anda?