Kampus Udayana, Pintar di Kertas, Tapi Buta Empati!

Katanya kampus tempat mencetak intelektual… tapi di Universitas Udayana, seorang mahasiswa bernama Timothy Anugerah justru kehilangan nyawa—bukan karena skripsi, tapi karena bully dari teman sendiri.

Timothy diduga melompat dari lantai empat gedung FISIP. Di balik tragedi itu, beredar tangkapan layar grup chat—tempat ejekan, hinaan, dan candaan jadi senjata pembunuh karakter. Ironisnya, di kampus yang katanya ‘unggul dan berbudaya’, empati malah absen.

Enam mahasiswa sudah kena sanksi, tapi ingat—bullying bukan sekadar pelanggaran etika kampus. Di KUHP, perundungan yang berujung luka atau kematian bisa dijerat pidana. Artinya, ‘candaan ringan’ bisa berujung jeruji besi. Masih mau bilang cuma bercanda?

Timothy sudah tiada, tapi hukum seharusnya belum berhenti. Pertanyaannya… kapan kampus dan aparat benar-benar menegakkan keadilan? Atau, lagi-lagi, empati dan hukum hanya akan dibahas di ruang kuliah—bukan di dunia nyata?