Dari Open BO ke Tutup Peti

Kasus pembunuhan di hotel Palembang ini bikin bulu kuduk berdiri. Perjanjian open BO yang gagal, berakhir dengan nyawa melayang dan nurani terkubur.

Pelakunya, Febrianto alias Febri, 22 tahun. Ia memesan Anti Puspita Sari, wanita muda yang sedang hamil, dengan kesepakatan Rp300 ribu untuk dua kali berhubungan. Tapi setelah satu kali, korban menolak lanjut. Dari situ, emosi Febri meledak. Ia membungkam mulut korban pakai manset hitam, mencekik lehernya, lalu mengikat tangan korban dengan jilbab pink sebelum kabur.

Tak cukup membunuh, Febri juga membawa kabur HP dan motor korban ke Banyuasin. Tapi pelarian tak lama. Ia ditangkap polisi, bahkan sempat ditembak di kaki karena melawan. Di hadapan penyidik, Febri mengaku dihantui korban selama pelarian—tapi tak cukup takut untuk menyesal.

Dari kesepakatan yang dimulai dengan pesan singkat, berakhir jadi berita duka. Dunia digital makin cepat mempertemukan orang, tapi juga makin cepat memisahkan manusia dari nurani. Pertanyaannya: kalau nafsu bisa menutup akal, siapa yang masih bisa buka mata?