Tahukah kamu, bioskop di Indonesia kini dipakai untuk menayangkan iklan politik Prabowo?
Iklan ini menampilkan narasi kepemimpinan dan citra pribadi, diputar sebelum film dimulai.
Praktik semacam ini mengingatkan pada sejarah panjang propaganda di ruang publik.
Hitler menggunakan layar lebar untuk membangun kultus pribadi di Jerman, Kim Jong Un di Korea Utara dengan film-film pemujaan, hingga Putin di Rusia yang menguasai media demi mempertahankan kekuasaan.
Propaganda lewat bioskop bukan sekadar iklan biasa, tapi strategi menguasai ruang imajinasi rakyat, menjadikan tontonan hiburan berubah menjadi medium politik.
Pertanyaannya, apakah ini sekadar promosi politik, atau langkah menuju propaganda gaya otoriter?
Saat hiburan mulai diwarnai pencitraan penguasa, kita perlu waspada: demokrasi bisa pelan-pelan bergeser jadi kultus individu.
