Hingga kini Internet di Merauke, Papua Selatan belum normal kembali. Upaya pemulihan jaringan internet mulai berjalan setelah kapal perbaikan kabel laut SMPCS-2 tiba di Laut Arafuru. Telkom menargetkan pemulihan sementara dapat selesai pada awal September 2025, sementara Telkomsel membuka Posko Internet Merah Putih di lima titik strategis Merauke untuk memberi akses gratis kepada warga.
Langkah ini diambil menyusul amarah masyarakat yang memuncak dalam aksi ricuh di Kantor Telkom Merauke pada Kamis, 21 Agustus 2025. Kericuhan tersebut dipicu gangguan internet yang membuat komunikasi lumpuh, dan dipanaskan oleh isu politik lokal yang lebih dulu viral.
Kronologinya bermula pada 14 Agustus 2025, ketika masyarakat Merauke digemparkan isu perselingkuhan Gubernur Papua Selatan yang diviralkan istrinya lewat TikTok. Dua hari kemudian, pada 16 Agustus, jaringan internet mulai terganggu berat. Dugaan merebak bahwa pemutusan jaringan sengaja dilakukan untuk meredam isu politik yang viral.
Puncaknya terjadi pada 21 Agustus 2025. Ribuan massa Aliansi Mahasiswa Masyarakat Merauke berkumpul sejak pagi di Lingkaran Brawijaya lalu bergerak menuju Kantor Telkom dengan yel-yel “Bakar Telkom.” Sesampai di lokasi sekitar pukul 11.00 WIT, massa membakar ban dan menyampaikan tuntutan: pemulihan jaringan, penyediaan jalur cadangan, transparansi anggaran, serta kehadiran provider alternatif di Merauke.
Menjelang siang, situasi memanas setelah polisi menemukan massa membawa bahan bakar. Cairan yang ditumpahkan justru memicu api membesar, hingga bentrokan pecah. Dari pukul 12.30 hingga 13.00 WIT, kantor dilempari batu, kayu, botol, hingga molotov. Kaca-kaca kantor pecah, suasana semakin tidak terkendali. Bentrokan berlanjut hingga pukul 14.00 WIT, aparat menembakkan gas air mata, sementara massa membalas dengan lemparan batu. Kota Merauke sempat mencekam.
Akhirnya, antara pukul 15.00 hingga 16.00 WIT, aparat membubarkan massa secara paksa. Beberapa pendemo maupun aparat mengalami luka ringan.
Koordinator aksi, Andika Labobar, menyatakan kericuhan itu adalah puncak kemarahan masyarakat akibat delapan kali gangguan internet sejak 2016, dan mengancam aksi lebih besar jika tak ada kepastian dari Telkom.
Kini, dengan dimulainya perbaikan kabel laut dan beroperasinya posko internet darurat, warga Merauke diharapkan segera kembali menikmati akses komunikasi normal. Namun, kericuhan yang terjadi menjadi peringatan keras bagi penyedia layanan bahwa gangguan konektivitas di wilayah timur Indonesia bukan hanya soal teknis, melainkan juga menyangkut stabilitas sosial dan politik.
