Di Balik Angka 8,47%: Pemulung Tua Bertahan Hidup dengan Rp15 Ribu

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut angka kemiskinan nasional pada 2025 turun ke level di bawah 9%. Untuk pertama kalinya, tingkat kemiskinan Indonesia berada di angka 8,47%, atau setara 23,9 juta orang.

“Jumlah penduduk miskin kita juga turun dari 25,22 juta menjadi 23,9 juta orang. Tingkat pengangguran juga menurun ke level 4,76% dari tingkat pengangguran terbuka, dengan lapangan kerja yang tercipta naik dari 3,55 juta menjadi 3,59 juta,” ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (22/8/2025).

Ia menegaskan, stabilitas ekonomi nasional serta peran APBN sebagai instrumen buffer menjadi faktor penting dalam capaian tersebut. “Fungsi APBN perlu terus dijaga agar pemerataan, keadilan, dan kemajuan daerah dapat terwujud,” tambahnya.

Namun potret berbeda tampak di Rest Area KM 44 Tangerang arah Merak. Seorang wanita tua, berusia sekitar 60 tahun, sejak subuh sudah terlihat menyusuri area parkir dengan karung lusuh di pundaknya. Ia memungut botol plastik bekas dari tong sampah dan sela kendaraan yang berhenti, dari pagi hingga larut malam.

Kausnya basah oleh keringat, sesekali ia berhenti untuk mengatur napas, sebelum kembali membungkuk memungut botol yang tercecer. Setelah seharian penuh bekerja, hasil yang ia dapatkan hanya sekitar Rp15.000. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk membeli makanan layak di rest area tempatnya mencari nafkah.

Kontras begitu terasa. Di satu sisi, pemerintah memamerkan keberhasilan menurunkan angka kemiskinan hingga di bawah 9%. Namun di sisi lain, seorang pemulung tua masih harus menghabiskan hampir 18 jam sehari demi uang recehan.

Di balik gemerlap lalu lintas tol Trans Jawa, kisah getir tentang kehidupan rakyat kecil tetap bergulir—menjadi pengingat bahwa statistik nasional tak selalu menggambarkan kenyataan di lapangan.