Ribut-ribut Soal "Kursi Jemuran" Peron Stasiun
Para pengguna jasa Kereta Rel Listrik (KRL) sebagian tak paham dengan fungsi kursi tersebut, mereka bahkan menyebutnya sebagai "kursi jemuran", karena bentuknya yang mirip dengan jemuran handuk.
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Beberapa bulan terakhir pengguna layanan Kereta Listrik Commuter Jabodetabek dibuat heboh terkait dengan kehadiran kursi "unik" yang terbuat dari besi berkaki dua, dengan dua atau tiga batang besi sepanjang kurang lebih dua meter. Para pengguna jasa Kereta Rel Listrik (KRL) sebagian tak paham dengan fungsi kursi tersebut, mereka bahkan menyebutnya sebagai "kursi jemuran", karena bentuknya yang mirip dengan jemuran handuk.
Tak ayal proyek yang diperkirakan bernilai miliaran rupiah itu diprotes banyak pengguna jasa KRL. Bahkan mereka sempat membuat petisi melalui media sosial bertajuk Kembalikan fungsi stasiun seperti semula, jangan pakai "jemuran handuk". Mereka menilai keberadaan "kursi jemuran" tak memberikan manfaat dan hanya merupakan proyek yang sia-sia. Selain itu kursi baru itu dinilai sama sekali tak nyaman untuk disandari atau diduduki. Apalagi belakangan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) justru menghilangkan kursi-kursi yang sebelumnya ada dan menggantinya dengan "kursi jemuran". Padahal kursi yang ada sebelumnya itu terbuat dari rel bekas yang dinilai lebih bermanfaat.
"Bagi saya sih nanggung. Duduk bukan, berdiri bukan. Anak-anak kecil dan ibu hamil juga kayaknya kesulitan kalau mau duduk-duduk di situ," ujar Tatang, 51 tahun, yang mengaku menggunakan jasa KRL dari Manggarai ke Bogor.
Hal senada juga diungkapkan seorang ibu hamil, Alfa, 27 tahun. "Menurut saya gak efektif. Mending sediakan kursi sekalian. Tapi suami saya bilang agak mending, seenggaknya masih ada buat sandaran."
Nada protes penggantian kursi peron ini juga riuh di media sosial. Sejumlah pengguna KRL di grup krlmania dengan nama rokerkrlmania bahkan menulis "udh banyak yg #TolakKursiJemuran di peron2 stasiun. Eh ini proyek malah terus merajalela ya". Sementara akun bernama Andika Dimas menulis, @jokowi RT @krlmania: Bagaimana perasaan anda melihat kursi di peron stasiun pd diganti dgn kursi jemuran?
Namun anggapan berbeda mengenai keberadaan "kursi jemuran" disampaikan Sofwan, 58 tahun. "Ini sudah benar. Ini bukan kursi. Ini sandaran. PT KCJ sudah benar mendesain ini di peron stasiun. Orang Jakarta itu mobilitasnya tinggi. Gak ada waktu lama-lama buat duduk-duduk di stasiun, kereta datang, kita turun sebentar, lalu naik lagi," katanya.
Pendapat yang disampaikan orang-orang seperti Sofwan menjadi salah satu alasan mengapa PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) menempatkan kursi itu di sejumlah stasiun di Jabodetabek.
Namun demikian, kondisi lapangan di mana jadwal kereta yang tidak bisa diduga, serta tingginya angka keterlambatan dan gangguan perjalanan kereta, kerap menyebabkan para pengguna jasa kereta harus menunggu berjam-jam di stasiun. Itu menyebabkan keberadaan kursi tersebut menjadi tak efektif. Hal itu salah satu yang menyebabkan para netizen melayangkan petisi Kembalikan fungsi stasiun seperti semula, jangan pakai "jemuran handuk". Hingga berita ini ditulis, petisi yang diprakarsai Rahmat Ali itu sudah ditandatangani 463 orang.
Dikonfirmasi terkait protes pengguna jasa KRL atas keberadaan "kursi jemuran" dan petisi itu, Humas PT KCJ Adli Hakim mengakui bahwa kursi yang sudah dipasang sejak 2015 itu memang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Namun ia menjelaskan meningkatnya pengguna jasa KRL yang sulit diimbangi dengan infrastruktur stasiun membuat PT KCJ harus mengambil pilihan mendesain tempat duduk seperti itu.
"Saat ini ada sekitar 850 ribu pengguna KRL setiap hari, dan jumlah itu akan bertambah terus setiap tahunnya. Kondisi stasiun sudah berubah banyak dengan kondisi pertama kali stasiun-stasiun itu dibangun," katanya.
Menurutnya, dulu pengguna KRL pun hanya sekitar 200 ribu per hari. "Dengan perubahan seperti itu, kita melihat bahwa sulit untuk mengubah infrastruktur. Mengubah infrastruktur itu dalam arti mengganti layout stasiun, termasuk peronnya," ujarnya lagi.
Jika peron diperlebar atau diperpanjang, otomatis rel harus digeser, demikian juga persinyalannya. Jadi, menurut dia, pengelola menghadapi desakan dari jumlah pengguna yang terus bertambah, padahal pada 2019, KCJ menargetkan jumlah pengguna 1,2 juta penumpang setiap hari.
Hal itu tidak mungkin dihadapi dengan mengubah infrastruktur, infrastruktur hanya bisa dibenahi. Makanya pihaknya mengaku berusaha menambah ruang di stasiun dengan membuat tempat duduk yang lebih ramping. Menurut Adli, karakter Commuter itu penumpangnya cepat naik dan cepat turun. "Satu kereta jalan, lima menit berikutnya kereta jalan lagi. Jadi kita tidak memperhitungkan orang-orang untuk duduk lama di stasiun," beber Adli.
Disinggung mengenai desain kursi yang dianggap tidak friendly, Adli menyadari bahwa hal itu merupakan hal baru. Namun, menurutnya, hal itu diniatkan untuk memudahkan mobilitas penumpang. Soal kursi-kursi yang dulu, justru menurut Adli, itu yang lebih tidak friendly. "Kursi-kursi itu dibuat dari bekas rel, dan kadang ada kursi yang ujungnya tajam hingga bisa membuat pakaian orang tersangkut," katanya.
DESAIN SENDIRI - Adli mengakui desain kursi itu dibuatnya sendiri. Mereka pelajari dari sejumlah negara seperti Inggris, Belanda, dan Jepang. Di sana mereka menempatkan kursi seperti itu di stasiun-stasiun. "Di China kondisinya bahkan lebih parah, di sana tidak ada kursi atau tempat duduk sama sekali," tambah Adli. Diakui Adli, saat direksi menunjukkan desain itu kepada Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, kala itu Jonan menyetujuinya sehingga digagaslah pemasangan kursi itu di peron-peron stasiun.
"Kursi jemuran" dibuat oleh salah satu perusahaan di Bandung yang memenangkan lelang proyek tersebut. Saat ini, ada lebih dari 100 unit kursi yang sudah dipasang. Kursi-kursi itu dipasang di Stasiun Manggarai, Sudirman, juga stasiun lain arah Bogor dan Bekasi. Sedangkan untuk stasiun-stasiun lain ke arah Jakarta Kota, PT KCJ menilai kursi yang ada saat ini dianggap sudah representatif dan ruang yang tersedia pun masih cukup. "Pemasangan kursi-kursi itu di stasiun jalur Jakarta Kota belum akan dilakukan dalam waktu cepat," kata dia.
Meski disiapkan untuk orang-orang dengan mobilitas tinggi, faktanya, orang-orang harus lama menunggu di stasiun. Akibatnya kursi yang kegunaannya hanya untuk tempat bersandar, juga digunakan untuk duduk. Akibatnya di beberapa tempat, meski umurnya hitungan bulan, bautnya sudah mulai kendur.
Soal ini Adli mengatakan desain layanan, termasuk "kursi jemuran", tidak didesain untuk situasi-situasi tidak normal. Hal-hal yang membuat orang menunggu itu adalah situasi tidak normal, misalnya kereta anjlok. Bicara soal kursi jemuran dan situasi tidak normal sudah beda dimensinya.
"Hal yang bisa kita lakukan untuk situasi seperti itu ya kita memberi informasi pada pengguna. Di sisi lain, kita juga masih menyediakan kursi prioritas untuk lansia, penyandang cacat, ibu hamil, dan anak-anak. Kursi-kursi prioritas kita tempatkan di sudut peron agar memudahkan mereka," katanya. (Zulkifli Songyanan)
