Penyelesaian Damai Konflik Tolikara
Lebih jauh, Kiai Said mendukung adanya penyelesaian dengan cara damai tanpa upaya balas dendam agar konflik dapat diredam dan tak berkepanjangan.
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Konflik di Tolikara kini sudah memasuki tahap-tahap pemulihan khususnya bagi umat Islam yang masih mengalami trauma akibat penyerangan yang dilakukan sekelompok massa intoleran saat mereka melaksanakan salat Idul Fitri. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengapresiasi kondisi Tolikara, Papua yang kini sudah kondusif.
Meski begitu, kata Hidayat, seluruh pihak harus waspada terhadap hal-hal yang bisa memicu munculnya kejadian semacam ini. "Ini harus jadi kewaspadaan TNI dan Polri. Indonesia berdaulat kuat. Kami apresiasi di lapangan sudah kondusif, sudah ada aksi minta maaf dan memberi maaf, bahkan peletakan batu pertama (pembangunan masjid)," kata Hidayat kepada wartawan di Resto Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Kamis (23/7) kemarin.
Terkait masalah ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengimbau kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk tidak mudah terpancing dan tidak terpengaruh adanya insiden Tolikara Papua. "Umat Islam jangan terpengaruh dan tidak melakukan aksi anarkis terkait bentrokan Tolikara demi terjaganya kerukunan antar umat beragama," kata Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, dalam siaran pers yang diterima gresnews.com, Jumat (24/7).
Lebih lanjut, Kiai Said berharap bentrokan yang terjadi di Kecamatan Karubaga itu tidak terulang kembali di kemudian hari. Karena jika terulang, menurutnya, bentrokan semacam itu akan merusak persatuan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi.
"Kalau sampai ada aktor intelektual di balik kejadian ini, itu sangat jahat sekali. Karena sebenarnya bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya. Kita semua menyepakati bentuk nation state, darussalam, negara kesatuan, yang merangkul semua komponen bangsa ini. Saya berharap pemerintah, melalui aparat penegak hukumnya, harus segera mengungkap kejadian ini dan menindak pelakunya," paparnya.
Lebih jauh, Kiai Said mendukung adanya penyelesaian dengan cara damai tanpa upaya balas dendam agar konflik dapat diredam dan tak berkepanjangan. "Tidak akan pernah selesai sebuah kekerasan jika diselesaikan dengan cara kekerasan juga. Langkah damai adalah langkah yang tepat untuk menghentikan kejadian-kejadian intoleransi, khususnya di tanah Papua, dan umumnya di Indonesia secara keseluruhan," terangnya.
Kiai Said menambahkan bangsa ini membutuhkan kesatuan yang kokoh di era globalisasi. Bangsa Indonesia, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun partai politiknya, apapun alirannya, menurut Said harus bersatu memasuki era globalisasi ini supaya bangsa ini tidak tergerus dengan era yang sangat menantang ini. "Hal ini sangat membutuhkan persatuan dan kesatuan yang kokoh," tukasnya.
SERUAN PERDAMAIAN - Seruan perdamaian ini sebelumnya juga telah disampaikan para tokoh agama dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo. Para tokoh meminta kepada pemuka agama tidak menyiarkan kebencian dalam ibadah.
"Kami imbau para Khotib Salat Jumat jangan sampai menyebarkan hal-hal yang provokatif," ujar Said Aqil Siradj, di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (23/7) kemarin.
Said Aqil juga meminta agar para ormas-ormas agama segera melakukan dialog untuk menjaga kerukunan beragama. Dia berharap kejadian Tolikara tidak terulang lagi. "Ormas agama diimbau untuk lakukan dialog menjaga kerukunan dan ketenteraman," ucapnya.
Senada juga diucapkan, Ketua PGI, Henriette Tabita Lebang. Dia juga berpesan kepada pastor agar memberikan ceramah yang menjaga kerukunan saat ibadah.
"Kami imbau pada pastor dan pendeta, pada pelayanan hari Minggu agar smua memelihara kedamaian dan semangat saling mencintai," ujarnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, para pemuda dan tokoh lintas agama juga berkumpul di rumah dinas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso. Mereka saling bertukar pandangan terkait penyerangan di Tolikara, Papua di hari Idul Fitri 17 Juli 2015 lalu.
Ketua Umum KNPI Muhammad Rifai Darus mengungkapkan pandangannya terkait insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara. Menurutnya di Papua tak ada kebencian antara umat beragama, kehidupan di sana aman dan tentram.
"Usia saya 39 tahun ´I am Papua and I am moslem´," ucapnya dengan bangga di rumah dinas Kepala BIN di Jl Denpasar Raya No 41/42, Jakarta, Kamis (23/7).
Menurutnya ada dua catatan penting yang bisa menjadi pelajaran dari insiden tersebut. Pertama, polisi seharusnya bisa lebih dini mengidentifikasi sebelum konflik terjadi. Kedua, perlu adanya pendekatan antara tokoh agama dengan bupati untuk menetralisir keadaan.
Di kesempatan yang sama, Putri, mewakili pemuda dan pemudi umat Katolik menyampaikan rasa duka atas penyerangan itu. Ia merasa sedih dan mengecam segala bentuk kekerasan yang telah terjadi.
"Nasi yang sudah jadi bubur, jangan dibuat jadi racun tapi kita bikin enak buat disantap. Yang sudah terjadi jangan diperbesar, tapi dinormalisir. Percayakan penyelesaian masalah ini pada mereka yang mampu, mari kita jaga keindahan di muka bumi," ucap Putri.
Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI KH Ma´ruf Amin. Ia meminta MUI dan ormas Islam lainnya menjaga kerukunan di sana. Dia berharap upaya-upaya penguatan kerukunan antar umat beragama di semua daerah lebih diintensifkan dan kasus ini bisa diusut sampai tuntas.
"Peristiwa di Tolikara harus diusut secara tuntas, para pelaku yang ada dibelakangnya, aktor intelektual juga harus segera ditangani," katanya.
Senada dengan Ma´aruf Amin, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom mengecam segala bentuk kekerasan di Tolikara dan menyerahkan penyelesaian masalah pada pemerintah dan secara profesional membawa permasalahan ini ke ranah hukum.
"Semua yang terlibat, termasuk otaknya dapat dibawa ke hukum,dan meminta umat agama lainnya tidak terpovokasi insiden yang mencederai pertahanan dan kerukunan antar umat beragama," ujarnya.
SOLIDARITAS BANGUN MASJID - Selain seruan perdamaian, solidaritas antar umat beragama untuk memulihkan luka di Tolikara juga digalang dengan cara mengumpulkan donasi untuk membangun kembali Masjid Baitul Muttaqin yang dibakar massa intoleran. Para netizen mengumpulkan dana melalui situs penggalang dana Kitabisa.com.
Lewat penggalangan dana itu, comic stand up comedy Pandji Pragiwaksono berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp308.983.642 dari 1185 orang donatur untuk membangun kembali masjid di Kabupaten Tolikara, Papua. Inisiatif penggalangan dana secara online ini dilakukan setelah insiden yang terjadi saat pelaksanaan Salat Idul Fitri, Jumat (17/7) lalu.
Penggalangan dana yang sebelumnya direncanakan berjalan selama 30 hari tersebut ternyata berhasil melebihi target kurang dari tiga hari sejak kampanye dimulai. "Kurang dari tiga hari, donasi Masjid Tolikasa telah tercapai, bahkan melebihi target. Untuk itu kami memutuskan untuk menghentikan penggalangan dana saat ini juga." tulis Pandji di situs itu.
Pandji sendiri menilai, aksi ini merupakan bukti bahwa para netizen lebih menyukai aksi cinta damai dibandingkan perpecahan. "Masih di dalam semangat Idul Fitri, kita telah buktikan cinta menang atas dengki dan dendam. Yang kita perjuangkan, kini telah kita menangkan," lanjut Pandji.
Seluruh dana yang terkumpul akan ditransfer ke Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) cabang Jayawijaya, Papua, Jumat (24/7) hari ini. Selanjutnya BSMI akan berkoordinasi dengan pengurus Masjid dan tokoh masyarakat di Karubaga untuk masuk ke struktur panitia pembangunan Masjid Karubaga.
"Semoga donasi dan cinta ini berbuah surga bagi para donatur," pungkas Hamdani, perwakilan dari BSMI cabang Jayawijaya.
PENEGAKAN HUKUM TETAP JALAN - Solusi damai jelas merupakan jalan terbaik menyelesaikan luka di Tolikara. Meski begitu, penyelesaian secara hukum juga tidak bisa diabaikan untuk menjamin rasa keadilan agar tindakan serupa ke depan tidak terulang kepada siapapun.
Terkait hal ini, seorang netizen asal Bandung, Maimon Herawati, menggalang dukungan masyarakat melalui petisi Change.org/Tolikara. Petisi itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim dan Kapolri Badrodin Haiti meminta agar kasus tersebut diusut tuntas dan pelakunya dihukum.
Dalam waktu empat hari sejak dimulai, petisi berjudul "Usut Tuntas Teror Tolikara dan Cokok Pelakunya" itu, hingga saat ini sudah didukung lebih dari 30 ribu tandatangan.
Hal senada juga ditekankan oleh para tokoh agama yang bertemu Jokowi di Istana Negara. Usai pertemuan, para tokoh agama mempercayai penanganan proses hukum kasus penyerangan warga di Karubaga, Tolikara, Papua, bisa diusut tuntas.
"Semua pihak diharapkan percaya kepada pemerintah dalam usut kasus ini," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (23/7).
Pihak kepolisian sendiri sejauh ini sudah menetapkan dua orang tersangka berinisial HK dan JW dalam kasus penyerangan umat muslim di Karubaga, Tolikara, Papua. Polisi akan mengembangkan penyidikan untuk menelusuri dugaan adanya keterlibatan pihak lain.
"Mereka memang pada saat kejadian, berdasarkan keterangan saksi serta rekaman dari kamera, mereka sepertinya memimpin, (jadi) korlap," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes (Pol) Patridge Renwarin, Jumat (24/7).
Kedua tersangka direncanakan diterbangkan dari Wamena ke Jayapura pada siang nanti dengan pesawat komersial. Di Mapolda Papua, HK dan JW akan menjalani pemeriksaan lanjutan. "Mereka masih diinterogasi, mereka mengaku memimpin massa, nanti kami dalami lagi siapa yang terlibat, karena mereka bertanggungjawab," tegas Kombes Patridge.
Salah satu tersangka diketahui sebagai pegawai bank. Sebab banyak saksi yakni korban penyerangan atau pun personel pengamanan yang kesehariannya mengetahui tersangka. "Para saksi kenal pelaku," imbuhnya.
Saat ini kondisi di Karubaga sudah aman. Warga menurut Kombes Patridge sudah beraktivitas dengan normal.
"Karubaga aman," katanya.
Selain itu, pihak kepolisian sendiri juga sudah mengantisipasi kemungkinan merembetnya sentimen di sejumlah daerah atas insiden Tolikara, Papua. Polri melakukan langkah preventif.
"Antisipasi iya karena masih ada pengungsi, ada pembangunan dan proses penegakan hukum," jelas Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Istana, Kamis (23/7) kemarin.
Menurut Badrodin, pihaknya melakukan koordinasi dengan ulama dan umat beragama mencegah terjadinya peristiwa yang tak diinginkan. "Sudah dari awal sudah kita lakukan. Kita koordinasi dengan ulama, antar umat beragama, menjaga situasi dari tindakan kekerasan, tindakan balasan dan main hakim sendiri," tambahnya.
"Kedua dari segi preventif, polisi melakukan pengamanan gereja-gereja," pungkas Badrodin. (dtc)
