Wawancara Djarot Sulistio Wisnubroto: PLTN Tinggal Selangkah Lagi

Minggu, 30 Agustus 2015, 16:37:00 WIB - Tatap_muka

Kepala BATAN Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto (Edy Susanto)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) selalu memicu kontroversi, di mana pun itu. Tak terkecuali di Indonesia. Selalu ada pro dan kontra. Pihak pendukung nuklir antara lain mengatakan, pembangunan PLTN tak terelakkan karena ada kebutuhan listrik skala besar. Kebutuhan itu hanya realistis dipenuhi jika ada PLTN. Di sisi lain, tak sedikit pula kelompok yang antipati dengan nuklir. Mereka tidak ingin bencana yang diakibatkan oleh kebocoran dan ledakan reaktor nuklir akan terjadi di negara mereka juga. Seperti yang terjadi di reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina dan reaktor Fukushima di Jepang.

Di Indonesia, penolakan kelompok antinuklir itu antara lain juga tertuju pada rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE), yang saat ini tengah dirancang oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Reaktor ini rencananya dibangun di Kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan. RDE didesain untuk menghasilkan listrik dan untuk melakukan uji coba penelitian.

Saat ini, pihak Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah rampung menyusun buku putih PLTN. Di buku ini, antara lain dijelaskan tentang proyeksi untuk mengoperasikan PLTN berkapasitas 5.000 Megawatt (MW) pada 2024. Buku ini juga merupakan peta jalan bagi pembangunan PLTN di Indonesia. Buku ini sudah ditandatangani oleh Menteri ESDM Sudirman Said, tinggal menunggu persetujuan Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara. Buku putih ini akan dirilis dalam waktu dekat.

Di Indonesia, derasnya penolakan terhadap PLTN belakangan ini malah memunculkan ide baru. Baru-baru ini ada beberapa kalangan di Indonesia yang mengusulkan untuk mengganti PLTN dengan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT).

Untuk memperjelas mengenai hal-hal di atas, reporter Agus Hariyanto ditemani fotografer gresnews.com Edy Susanto mewawancarai Kepala BATAN Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto. Alumnus Universitas Tokyo Jepang yang menduduki pucuk pimpinan BATAN sejak 4 September 2012. Wawancara dilaksanakan pada Kamis (27/8) di kantor BATAN di Jalan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Berikut petikan wawancaranya:

Terkait dengan rencana BATAN membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong, bagaimana ini ceritanya?

RDE ini sebenarnya konsep kita untuk mengenalkan reaktor nuklir yang menghasilkan listrik kepada masyarakat. Kita kenalkan RDE sebagai introduksi ke arah PLTN yang besar. Dan itu bukan ide BATAN semata, bahkan itu permintaan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada 2013, kita pernah undang Bappenas ke sini. Wakil ketua Bappenas-nya, Pak Lukita (Lukita Dinarsyah Tuwo) yang datang saat itu. Beliau mengatakan kenapa kita tidak mulai bangun PLTN yang kecil saja, 3-5 Megawatt (MW) saja, harganya tidak terlalu mahal. Saat itu kita mengenalkan RDE ini, reaktor nuklir yang menghasilkan listrik.

Kita saat ini sudah punya 3 reaktor nuklir, namun hanya untuk riset dan tidak menghasilkan listrik. Yaitu di Bandung yang berdiri tahun 1965, di Yogyakarta 1976, dan di Serpong tahun 1987. Ketiganya tidak bisa menghasilkan listrik karena struktur reaktornya berbentuk kolam terbuka, tidak tertutup. Tidak menimbulkan tekanan dan suhu tinggi. Ketiganya hanya menghasilkan radioisotop untuk kesehatan dan penelitian, serta untuk melatih sumber daya manusia (SDM) kita kelak kalau kita punya PLTN. Karena itu keselamatannya juga tinggi. Dan syukur alhamdulillah kita belum pernah mengalami masalah terkait reaktor, seperti yang terjadi di beberapa negara. Selama ini aman.

Nyatanya tidak pernah ada masalah kan selama ini. Ada gempa, terakhir yang paling besar tahun 2006, juga aman-mana saja. Ketika kita dulu membangun reaktor Babarsari di Yogya itu tadi, itu di sana, di Jalan Babarsari masih sepi. Sekarang, di sekelilingnya ramai. Ada universitas, ada UPN Veteran, ada Universitas Atmajaya, ada Hotel Sahid. Bahkan Hotel Sahid bangun tinggi. Nggak ada yang komplain ada reaktor di situ. Mereka sudah tahu ada reaktor di situ.

Di road map pembangunannya, RDE disebutkan akan memasuki tahap komisioning dan beroperasi pada tahun 2019 ya?

Nah, ini menjadi dilema tersendiri. Salah satu dasar hukum kenapa harus dibangun RDE adalah karena ada Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, yang menyatakan PLTN harus dibangun pada tahun 2015 sampai 2019. Ketika kita berdiskusi dengan Bappenas, kita bilang ya sudahlah, toh banyak juga undang-undang yang tidak ditaati. Tapi Bappenas bilang, jangan. Itu harus ditaati. Bangun saja yang kecil-kecilan supaya undang-undang itu tidak dilanggar. Kalau sesuai undang-undang, di tahun 2019 mestinya RDE ini sudah komisioning. Meskipun itu perlu kerja keras. Apalagi, kita juga berpikir, prediksi saya kalau RDE ini disetujui oleh pemerintah sekarang, dia kan juga ingin pengguntingan pita di masa pemerintahnya. Nah 2019 menjadi titik krusial. Pak Menristek Dikti (Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Red.) ketika beliau baru dilantik bertemu, dan pada saat ulang tahun BATAN beliau mengatakan kalau bisa tahun 2017 atau 2018. Membangun reaktor nuklir, itu tidak bisa cepat. Kalau sekadar bangun sih cepat, tetapi itu kan butuh evaluasi keselamatan. Mulai dari pemilihan tapak, membangun, mengoperasikan dan lain sebagainya.

Untuk RDE ini kalau tidak salah kemarin pemerintah sudah memberikan anggaran Rp50 miliar ya?

Ya. RDE itu sudah masuk ke dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Red.) 2015-2019. Untuk tahap pertama diberikan anggaran Rp50 miliar untuk tahap pra-project. Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui konsep dan desain, lokasi yang ditentukan cocok atau tidak, serta perkiraan biayanya jika proyek dilaksanakan. Pelaksananya adalah pemenang lelang, yaitu konsorsium Indonesia-Jerman. Dari Indonesia ada PT Rekayasa Engineering dan PT Kogas Driyap Konsultan. Dari Jerman ada Nukem Technologies yang kebetulan 100 persen sahamnya dimiliki perusahaan Rusia, Rosatom. Di dalam kontrak kita tidak pernah mengenal Rusia, tapi Jerman. Sejarah antara Nukem dan Indonesia juga panjang. Nukem adalah perusahaan yang membangun pabrik bahan bakar nuklir di Serpong. Bahan bakar untuk reaktor serbaguna Serpong.

Uang Rp50 miliar itu untuk hanya untuk pra-project, sedangkan untuk membangun RDE perlu sekitar Rp1,7 triliun. Itu tahun 2014, saat US$1 dolar sama dengan Rp10 ribu. Sekarang dolar sudah Rp14 ribu. Hal ini mungkin yang harus kita bicarakan dengan pemerintah. Yang Rp50 miliar sudah dikasih, tapi kita masih perlu bekerja keras untuk meyakinkan untuk mendapatkan yang 1,7 triliun itu.

Rp50 miliar itu untuk anggaran tahun 2015?

Iya, untuk 2015 saja. Yang 2016 belum ada kabar. Saya mendengar, 2016 itu seluruh anggaran kementerian dan lembaga dipotong karena kondisi ekonomi belum membaik. Makanya, kalau memang anggaran tahun 2016 belum memungkinkan, kita akan fokuskan untuk menyusun dokumen perizinan. Supaya nanti kalau anggaran sudah ada, kita langsung menyerahkan ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), dan itu memperlancar program pembangunan.

Apakah benar RDE ini akan memakai teknologi nuklir generasi ke-4?

Iya. Saat kita mencari kira-kira reaktor apa yang harus kita bangun, ada yang bilang kita bangun reaktor generasi 3+ saja. Yaitu jenis reaktor komersial yang saat ini digunakan di banyak negara. Kelak kan kita juga akan membangun PLTN yang besar, generasi 3+. Jadi sekarang buat yang kecil saja, generasi 3+. Tapi bagi BATAN itu tidak ada nilai tambahnya. BATAN kan lembaga litbang. Kalau generasi 3+ maka tidak ada hal yang harus diteliti lagi, karena sudah establish, tinggal copy paste saja. Maka kita pilih generasi ke-4. Tapi, ada yang tanya lagi, generasi ke-4 itu kan belum proven (terbukti). Akhirnya kita cari jalan keluar, cari generasi ke-4 yang pernah dioperasikan di negara lain, yaitu di Jerman.

Itulah kenapa kita pilih generasi ke-4, namanya High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR), teknologi dari Jerman. Kelebihan HTGR, selain bisa menghasilkan listrik, juga bisa menghasilkan panas tinggi. Panas ini bisa dimanfaatkan. Misalnya untuk mencairkan batubara, desalinasi air laut menjadi air tawar, untuk penelitian dan lainnya. BATAN tertarik dengan generasi ke-4 ini. Ada hal yang masih bisa kita teliti. Selain itu, hal lain yang sangat penting adalah jenis reaktor ini bisa diuji coba untuk menggunakan bahan bakar dari thorium. Kan sekarang ini thorium lagi jadi tren. Banyak orang menanyakan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT). Sebenarnya RDE ini bisa jadi calon PLTT di masa depan.

Reaktor nuklir generasi ke-4 ini katanya lebih aman karena bahan bakarnya menggunakan berbentuk pebble yang berisi partikel TRISO?

Iya. Bahan bakarnya seperti bola-bola, pebble-TRISO. Ini sama dengan yang sudah dioperasikan di Tiongkok, di Tsing Hua University. Salah satu dari 2 universitas yang paling hebat di Tiongkok. Dia punya reaktor yang saya kira sama persis dengan RDE ini, bedanya dia tidak untuk menghasilkan listrik, hanya untuk uji coba. Kalau kita untuk listrik dan untuk uji coba. Cita-cita kita mirip seperti di Tsing Hua University ini. Dan rencananya mereka akan mengembangkan reaktor generasi ke-4 ini dalam skala lebih besar lagi. Kalau yang mereka operasikan saat ini hanya 3 Megawatt thermal (MWt), maka nanti dikembangkan 2 x 250 MWt di Provinsi San Dong. Saat ini yang paling maju untuk generasi ke-4 adalah Tiongkok.

TRISO partikel memang lebih aman. Dia punya yang namanya keselamatan pasif. Jadi tidak ada semacam pelelehan seperti yang terjadi di reaktor generasi ke-3. Di generasi ke-4 ini tidak terjadi pelelehan karena bola-bola pebble diciptakan sedemikian rupa, sehingga kalau terjadi sesuatu, dengan sendirinya dia akan berhenti. Tidak ada apa pun. Ini kelebihan TRISO. Namun, teknologi TRISO ini juga punya konsekuensi lain. Karena saking solidnya, TRISO ini lebih sulit untuk didaur ulang. Karena partikel TRISO kan ada di dalam bola-bola karbon. Beda dengan reaktor generasi ke-3 seperti yang ada di Inggris, Amerika Serikat, India, Pakistan dan lainnya. Limbah bahan bakarnya, uranium dan plutonium, bisa didaur ulang untuk untuk senjata dan bisa dimasukkan lagi sebagai bahan bakar ke PLTN. Kalau TRISO ini susah, karena benar-benar solid, tapi lebih aman. Nah, sekarang pilihannya apakah mau mendaur ulang bahan bakar atau lebih aman. Kita pilih yang lebih aman lah.


Baca selanjutnya: 1 2 3 4

Komentar