Wawancara Eksklusif KH. Said Aqil Siradj: "Islam itu Damai"

Jum'at, 17 Juli 2015, 13:00:00 WIB - Tatap_muka

Ketua PBNU Said Aqil Siradj. NU Mengembangkan Islam yang seimbang antara akal dan tekstual (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Idul Fitri merupakan momen hari raya yang selalu dinantikan oleh banyak orang di Indonesia, yang mayoritasnya beragama Islam. Idul Fitri selalu menyisakan banyak cerita setiap tahunnya. Ritual mudik-balik, harga-harga barang dan kebutuhan pokok yang naik, dan seterusnya. Sebenarnya apa makna terdalam semuanya itu?

Berikut ini penjelasan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, MA, kepada reporter gresnews.com Agus Hariyanto, Minggu (12/7).

Lelaki yang akrab dipanggil Kiai Said ini menjelaskan bahwa di dalam agama Islam sebenarnya hanya ada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. 'Selain dua hari besar itu, (hari besar Islam lainnya) merupakan gagasan manusia lah, budaya. Kalau dari Allah, hari besar yang kita rayakan cuma dua ini,' ujar Kiai Said di ruangannya, lantai 3 Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat.

Terkait dengan Idul Fitri, menurut Kiai Said, momen itu begitu dinantikan karena hari itu menjadi pertanda bahwa umat Islam telah lulus dari ujian. Yaitu ujian menahan hawa nafsu selama sebulan penuh, puasa di bulan Ramadan.

'Setelah kita, umat Islam, menjalankan ibadah puasa itu kan berarti kita sudah lulus. Lulus melewati ujian yang sangat berat, satu bulan kita puasa,' ujar lelaki asal Cirebon, Jawa Barat itu.



Oleh karenanya, doa minal aidin wal faizin tak akan pernah henti diucapkan pada momen Idul Fitri. 'Minal ‘aidin itu artinya, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang kembali ke jalan yang benar. Sedangkan wal faizin itu artinya dan kita termasuk orang yang menang atau berhasil melawan hawa nafsu,' kata Kiai Said.

Kiai Said melanjutkan, musuh yang paling utama dari manusia adalah hawa nafsunya. Pada bulan Ramadan, umat Islam dilatih dan diuji untuk mengalahkannya. 'Musuh paling utama kita itu kan hawa nafsu kita sendiri. Yaitu ambisi yang tidak pernah selesai. Ketamakan yang tidak pernah kenyang. Itu musuh kita yang utama,' katanya.

Di Indonesia, 'kelulusan ujian' ini dilengkapi dengan acara silaturrahim, saling mengunjungi dan maaf-memaafkan. Baik dengan orang tua, kerabat, guru, tetangga, teman, handai taulan dan lainnya. Karenanya, ritual mudik ke kampung halaman dengan itu selalu menjadi cerita asyik dan menarik tiap tahunnya.

'Jadi sempurna banget, dengan Allah lulus, yaitu selesai dengan ibadah puasa. Dengan sesama umat manusia, dengan orang tua, dengan guru, dengan teman kita selesai. Lulus. Saling mengunjungi dan memaafkan. Menyempurnakan kelulusan dengan silaturrahim atau mudik-lah istilah saat ini,' kata lelaki yang lahir pada 3 Juli 1953 itu.

Kiai Said mengajak umat Islam Indonesia, terutama yang bernanung di organisasi Nahdlatul Ulama untuk merenungi dan menghayati arti Idul Fitri. Yaitu menjadi orang yang kembali ke jalan yang benar dan menang melawan hawa nafsu. Hal itu penting agar kita menjadi manusia yang benar-benar bersih, yang suci.

'Agar kita betul-betul menjadi hamba-hamba Allah yang bersih, yang berhasil melalui ujian berat. Yaitu melalui ujian puasa sebulan. Mari kita sempurnakan dengan silaturrahim, saling memaaafkan,' kata Ketua Umum PBNU Periode 2010-2015 ini.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar